Showing posts with label ngaji. Show all posts
Showing posts with label ngaji. Show all posts

Tuesday, July 24, 2018

Suluh Peringatan (Refleksi NGAJI Ihya KH. Masbuhin Faqih Gresik)




Berbagai macam terpaan yang dihadapkan oleh suatu manusia dalam kehidupannya  tak terlepas oleh perasaan hati yang mengaturnya.  Pentingnya olah hati menjadi sakral dalam hidup menentukan arah dalam kejernihan rasa yang selalu rintih pada sebuah kenikmatan. Karena awal bermula pada suatu ucapan, tindakan, dan keputusan dari kalbu manusia.
Aktivitas ngaji pagi di pesantren pada hari minggu dan selasa sudah pada tahapan daya hati yang terus bisa menyinari pada ingatan manusia. Kehadiran sebuah dzikir adalah untuk manusia ingat pada pencipta. Secara keseluruhan ada kesinambungan antara nalar dan nurani. Sekuat nurani yang melekat, sedalam nalar mendalam. Sehingga ada amal yang bisa berorientasi untuk diri sendiri dan orang lain.
Bagaimanapun juga manusia perlu peringatan dalam mengingatkan dan meningkatkan stabilitas diri. Efektifitas suatu peringatan akan terasa jika hati sangat damai menerimanya tidak amarah yang menjelma. Lemah daya manusia ada untuk membangunkan akan kebutuhan pada tuhannya.
Dengan begitu peranan Dzikir dalam menghidupi jiwa mati kiranya sangat membawa keberkahan bagi yang melakukannya. Meski itu tak dilakukan dalam ikhlas dan tulus. Biarlah diri yang menilai tulus itu dengan sendirinya. Sedangkan tuhan yang menetukan arah kebahagiaan darinya.
Maka tak heran banyak orang mengistilahkan bahwa hidup adalah perjalanan. Mengutip maqolah “barang siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya” berawal dari ola hati yang akan mendasari landasan pijakan hidup untuk terarah. Berbagai macam lantunan dalam dzikir adalah tanda manusia sangat mengakui kelemahannya. Dan bahwa manusia tidak cukup dinilai dari kulitnya saja. Ada kedalaman diri yang menjadi manusia itu dikenal seutuhnya melalui hati itu.
Secara fitrah manusia penuh dengan kelupaan dan kesalahan. Dengan berawal dari perjalanan pada peringatan dalam hati inilah kiranya sangat indah yang akan mencapai arti sebuah kehidupan lillahi wa linnasi  
Tingakatan pada seorang yang menempuh hidup dalam dunia berbagai macam aspek sangat mudah dikaitkan dengan adanya suatu daya ingatan. Khusunya pada pendidikan. Ini adalah pada tahapan mentalitas atau bahasanya karakter pada suatu manusia. Ini juga bisa dijadikan bekal hidup keseharian walau ada banyak godaan benda yang membabi buta pada manusia yang keras pada nuraninya. Kalau kepala keras itu wajar nurani jangan heheheheh

Read more

Tuesday, August 22, 2017

Faqihu Fiddin Bi Hurmati Wa Khidmati Lis Syekh (Guru)



Syukur mendalam kepada Allah yang telah memberikan nikmat islam dan iman kepada kita semua. Salam bahagia kepada rosurullah kepada nabi Muhammad yang telah membawa umatnya kedalam jalan yang terang yakni Agama islam. Semoga kelak kita semua diakui oleh umat nabi Muhammad dan mendapatkan Syafaatnya.
Faqihu fiddin,adalah  mengerti ilmu agama, mengerti ilmu yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad. Bertujuan untuk mendapatkan derajat taqwallah.
Derajat taqwallah tidak akan tercapai kecuali dengan memahami agama Allah, serta sesuatu yang di bawakan oleh nabi Muhammad, santri boleh belajar tentang apa saja yang ada didunia tapi jangan terlalu mencari kedudukandi dunia, tapi  menggapai keridhoannya untuk surga diakhirat kelak. Syarat untuk menggapai taqwallah santri harus menghormati dan sam'an watha'atan guru-gurunya. Bagaimana taqwallah telah diajarkan dalam kitab klasik safinah atau sullam dengan  kewajiban sholat, orang tua berkewajiban menyuruh dan memberi peringatan untuk sholat diumur 7 tahun untuk seorang muslim.
Oleh karena itu seorang santri dalam mengimpelemntasikan sam’an wa thoathannya dengan menharapkan keridhoan seorang guru dalam menuju seorang taqwallah faqihu fiddin. dalam hadits dijelaskan “Ridhollah fi ridho walidain”
Al-aba'Salasa
1.      Orang yang melahirkanmu
2.      Orang yang mengajarimu
3.      Orang yang menjadi mertuamu
Namun yang lebih dipatuhi oleh seorang santri adalah Abur Ruh (Guru) untuk bekal dakwah atau Nasrul Ilm. Dan Nasrul Ilm diukur dengan hormatnya Sam’an wa Thaathan kepada guru. Dipesantren dituntut untuk mengaji dan ngaji. Berusaha memperjuangkan agama Allah.
Taallum, Taabbud, Takholluq bil akhlaqil karimah. Selalu tadharru' kepada gusti allah. Mengajilah sepuasmu, dan Nassrul ilm yang ikhlas. kunci ilmu bermanfaat dari sam'am wa thaatan kepada guru. Jadi apapun kamu jika masih ingat gurumu, alhamdulillah
Tidak hanya berhenti di nasr ilm saja, tanpa disertakan Ngabdi akan sia-sia. Karena dikhawatirkan kebarokahan ilmu tuza'( dicabut) jika tidak ada jiwa khidmah. Untuk menciptakan dhoharat barokah film.
Meskipun statusnya sudah tak ada lagi dipondok (Alumni) tetaplah melakukan pekerjaan yang berlandasakn ke ukhrowi. Bagi seorang yang mencari ilmu diluar, Carilah jurusan umum yang mudah diarahkan ke akhirat. Dengan niat memperjuangkan agama Alah dan ukhrowi.
Maka mengambil faidah ilmu dengan khidmah, “wabil khurmati intafau, wa bil khidmati irtafau”. Karena kemanfaatan ilmu dilihat dari khidmah yang ikhlas. Teruslah menhidupkan agama Allah dimana saja santri bertempat.
"Walladzina jahadu fiina lanahdiyannahum subulana" ?? (QS. Al Ankabut: 69)

"Barangsiapa yang berjihad di jalan kami, maka sungguh akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan kami."
Berjihad di jalan Kami' yang dimaksudkan disini bukanlah jihad dalam arti sempit saja, namun pengertian 'jihad' mencakup semua kegiatan dan aktivitas seorang muslim demi menegakkan kalimatullah, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran. Memperjuangkan agama Allah (Nasrul Ilm) . Ini jugalah yang diistilahkan sebagai dakwah. Dakwah fi sabilillah.
Ket : Tausyiah Room Kyai Masbuhin Dalam Acara Popesa 17-18
Read more

Thursday, April 6, 2017

Pengajian Kitab Ihya' Ulumiddin (Imam Ghozali) KH.Masbuhin Faqih Suci, Gresik


Suatu karya fundamental dari Imam Ghozali dengan karyanya yang banyak dikaji dan ditela’ah di berbagai penjuru dunia. Kitab ihya’ merupakan suatu pengetahuan dan kedlaman ilmu logika, etika dan estetika. Karena didalamnya banyak kajian yang  pantas dijadikan pedoman kehidupan setelah kitab Allah (Al-Qur’an).
Di tengah kerumunan ajaran dan dogma agama yang beredar dan tersebar kitab Ihya’ sangat relevan dalam pandangan hidup untuk tetap dengan apa yang dibawakan Salafuna Sholih sebagai pewaris Nabi terdahulu. Melalui media online apa saja bisa ditemukan dan bisa dipelajari khususnya yang rawan dengan lingkungan agama, suatu Urgenitas dalam mempelajari Kalam Kitab Ihya’ meski tidak pernah Ngaji, tapi bisa mendapatkan apa yang diajeni dengan mendengarkan dan menela’ah kembali Kitab Ihya’.  Kami menghadirkan pengajian Kitab Ihya’ Juz 1 yang di pelopori Kyai Masbuhin Faqih Suci, Gresik.
Langsung download pengajiannya di link dibawah...!!
Selamat mengaji..!!
Selamat mendengarkan..!!
Semoga manfaat dan mendatangkan rahmat..!! (nantikan episode selanjutnya sahabat)

1. https://www.4shared.com/mp3/TArDB0igca/2_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

2. https://www.4shared.com/mp3/4xnYJ6nOei/3_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

3. https://www.4shared.com/mp3/fBiZvlU0ca/4_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

4. https://www.4shared.com/mp3/eg43drpqca/5_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

5. https://www.4shared.com/mp3/Taao2hN8ei/6_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

6. https://www.4shared.com/mp3/Nj6oKqhica/7_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

7. https://www.4shared.com/mp3/XOq6ceI_ei/8_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

8. https://www.4shared.com/mp3/PV8dMDKyei/9_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

9. https://www.4shared.com/mp3/gcgZssGJei/9_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

10. https://www.4shared.com/mp3/ce_8PPszei/10_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

11. https://www.4shared.com/mp3/FShch9Cqei/11_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

12. https://www.4shared.com/mp3/3c5hFm-fei/12_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

13. https://www.4shared.com/mp3/NL5gI_T2ei/13_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

Read more

Thursday, March 16, 2017

Biografi KH.H. Masbuhin Faqih Suci, Manyar Gresik

KH. Masbuhin Faqih di lahirkan di desa Suci kec. Manyar Kab. Gresik pada tanggal 31 Desember 1947 Masehi atau 18 Shafar 1367 Hijriyah. Beliau lahir dari pasangan kekasih Al-Maghfurlah KH. Abdullah Faqih dan HJ. Tswaibah. Dari pasangan kekasih tersebut lahir 5 orang anak, 3 orang putra dan 2 orang putri, KH. Masbuhin Faqih merupakan anak pertama (yang paling tua). Beliau memiliki silsilah yang mulya dan agung, yakni sampai ke Sunan Giri. Kalau diruntut, maka beliau adalah keturunan ke-12 dari kanjeng Sunan Giri Syeih Maulana Ishaq. Dengan runtutan seagai berikut:1. Syeih Ainul Yaqin (Sunan Giri) 10. KH. Muhammad Thoyyib2. Sunan Dalem 11. KH. Abdullah Faqih3. Sunan Prapen 12. KH. Masbuhin Faqih4. Kawis Goa5. Pangeran Giri6. Gusti Mukmin7. Amirus Sholih8. Abdul Hamid9. Embah TaqribDengan silsilah yang begitu agung tersbut, tak bisa dipungkiri di dalam diri beliau terdapat ruh dan jiwa seorang ulama yang tangguh dan berjuang tanpa batas waktu seperti embah buyutnya dahulu. Hal ini sesuai dengan Qiyasan santri: “Bapaknya Singa maka ank-anaknya pun singa”.Pendidikan beliau sejak kecil di lingkungan yang islami. Mulai dari tingkat MI samapi Mts. Setelah Tsanawiyah beliau melanjutkan studinya ke Gontor, Pondok pesantren Darussalam Ponorogo, Jawa Timur, disanalah beliau memperdalam ilmu bahasa Arab dan Inggris. Setelah lulus dari Gontor beliau ingin memperdalam ilmu lagi, selanjutnya beliau nyantri di PP. Langitan Widang Tuban, yang pada saat itu diasuh oleh KH. Abdul Hadi dan KH. Abdullah Faqih. Di sana beliau memperdalam ilmu kitab kuning, mulai dari Fiqh, Nahwu, Shorof, tauhid, sampai tasawwuf. Proses penggembalaan ilmu di PP. Langitan cukup lama, sekitar 17 tahun belaiu nyantri di sana. Diceritakan bahwasannya sosok KH. Masbuhin Faqih muda adalah pemuda yang giat dan tekun belajar, suka bekerja keras, dan optimis dalam suatu keadaan apapun. Waktu di PP. Langitan beliau banyak melakukan tirakat, seperti memasak sendiri, melakukan ibadah puasa sunnah dan lain-lain. Di sana belaiu juga sempat menjadi khadam (pembantu dalem) kyai. Hal ini sampai menjadi jargon beliau dalam menasehati santri MBS (Mamba’us Sholihin), yakni “nek mondok ojo belajar tok, tapi nyambio ngabdi nang pondok iku”. Dengan penuh keihlasan dan kesabaran, beliau jalani semua kehidupan diatas demi mendapatkan ilmu yang manfaat dan barakah.Ditengah-tengah menimba ilmu di Langitan, teatnya pada tahun 1976 M atau pada saat beliau berumur 29 th, KH. Abdullah Faqih langitan menyuruh kyai MAsbuhin untuk berjuang di tengah masayrakat Suci bersama-sama dengan abahnya. 

KH. Faqih langitan sudah yakin bahwasannya santrinya ini sudah cukup ilmuya untuk berda’wah dan mengajar di masyarakat. Wak demi waktu berlalu, proses berda’wah terus berjalan dan berkembang pesat. Dengan perkembangan itu KH. Abdullah Faqih disuruh untuk membuat pesantren oleh beberapa guru beliau agar proses berda’wah tersebut lancar. Bersama-sama dengan Anak-anaknya mereka mendirikan suatu pondok yang diberi nama PP. At-Thohiriyyah, yang mana dengan filosofi berada di desa Suci.KH. Masbuhin pada waktu itu masih pulang pergi dari langitan ke -Suci. Beliau masih beranggapan bahwa menimba ilmu di langitan belum sempurna kalau tidak dengan wakt yang lama. Inilah salah satu kelebihan beliau, yakni haus akan ilmu pengetahuan agama Islam. Tepat pada tahun 1980 M, beliau sudah mendapat restu untuk meninggalkan pondok pesantren Langi. Dengan itulah beliau sekarang harus berkonsentrasi dalam msngurus PP. At-Thohiriyyah bersama dengan abahnya. Tepat pada tahun ini juga PP. At-Thohiriyyah dirubah menjadi PP. Mamba’us Sholihin, keadaan ini sesuai dengan usulan KH. Usman Al-Ishaqi. Karena nama suatu pondok dirasa mempunyai arti dan harapan yang penting.Perjungan KH. Masbuhin dalam memajukan pondoknya tidak kenal lelah. Setahap demi setahap pembangunan pondok dilakukan, mulai dari komplek sampai sekolahannya. Dengan relkasi yang cukup banyak, beliau mampu membuat MBS (singkatan dari Mamba’us Sholihin) lebih maju baik itu gedungnya maupun kualitas sumber daya manusia di dalamnya.Tepat pada tahun 1997 M, suasana duka menyelimuti pondokj pesantren dan masayrakat desa Suci. Abah beliau meninggal dunia pada umur 77 tahun. sosok suri tauladan dan landasan perjuanagn beliau sudah tidak ada. Dengan keadaan itulah beliau harus membawa MBS menggantikan abahnya.

Dengan kegigihan dan perjuangan keras dalam berda’wah menyebarkan agama ISlam, KH. Masbuhin menjadi ulama’ yang terkenal, tidak di Indonesia saja tapi samapi ke luar negeri khususnya di negeri Hadaramaut Yaman. Beliau sangat mencintai dan mengagungkan para dzuriyyah rasulullah SAW. HAl inilah yang menjadikan beliau terkenal di negara tersebut. Dengan sifat tersebut pula, apabila ada habaib dari yaman yang datang ke Indonesia maka beliau meminta agar bisa menyempatkan mampir ke pondok MAmba’us Sholihin walaupun sebentar.Selain berda’wah menegakkan agama ISlam beliau juga berkecimpung dalam dunia politik. Tepat sebelum pemilu raya 2009, para ulama’ Indonesia bersatu untuk membuat partai, hal ini dilakukan demi pertsatuan dan perkembangan bangsa Indonesia yang agamis dan syar’i, maka lahirlah PKNU (PArtai Kebangkitan NAsional ULama’). Dalam partai inilah beliau ikut andil dalam percaturan politik. Hal ini tidak lain karena peran ulama’ begitu besar di mata masyarakat. Dalam mengikuti arus politik beliau sering jadi panutan dan sumber nasehat oleh para pejabat baik itu tingkat daerah maupun nasional.Dalam mengarungi bahtera kehidupan, beliau didampingi seorang isteri yang ta’at dan setia sehidup semati, nama beliau Nyai Hj. Mas’aini. Kehidupan syaih dan isterinya mempnyai sejarah yang luar biasa, dua pasangan kekasih ini walaupun sudah menikah dan mempunyai anak mereka tetap saja nyantri di pondok Langitan. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai oleh Allah SWT 12 anak, 9 putra dan 3 putri. Semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan terhadap mereka semua dalam kehidupan dunia dan akhirat. Amin….Profil Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin

I. Letak Geografis PPMS

Mambaus Sholihin adalah sebuah institusi yang terletak di kawasan pegunungan Suci, bersuhu udara cukup hangat, ± 25 °C. Kawasan ini berada kurang lebih 3 Km dari terminal Bunder (jalur utama Surabaya-Jakarta). Dan 2 Km dari Pertigaan Desa Tenger Sukomulyo yang terletak di jalur pantura ini termasuk kawasan yang cukup makmur ekonominya. Dengan sumber daya alamnya serta pasokan air yang melimpah ruah, (konon merupakan sumber mata air yang muncul pada saat Kanjeng Sunan Giri hendak berwudhu), merupakan aset yang sangat berharga bagi masyarakat sekitar dan juga bagi Pesantren.Mambaus Sholihin berdiri di areal perkebunan cukup luas, yang dipisahkan oleh ruas jalan utama Bunder-Tenger menjadi dua bagian, untuk kompleks Putra di sebelah barat jalan, dan untuk kompleks Putri di sebelah timur jalan, pemisahan ini menjadikan situsasi yang kondusif dan memudahkan pengaturan antara santri Putra dan Putri. Mengingat letaknya yang strategis (tepat disebelah jalan utama) dan mudah dijangkau dari berbagai penjuru, menjadikan Mamba'us Sholihin adalah sebuah institusi yang tergolong cepat perkembangannya .II. Sejarah Pendirian PPMSPondok Pesantren Mamba'us Sholihin dirintis oleh ayahanda KH. Masbuhin Faqih, yaitu Al Maghfurlah Al Mukarrom KH. Abdullah Faqih Suci sekitar tahun 1969 yang pada mulanya berupa surau kecil untuk mengaji AI-Qur’an dan Kitab Kuning di lingkungan desa Suci dan sekitarnya.Pada tahun 1976 Al Mukarram KH. Masbuhin Faqih (putra pertama KH. Abdullah Faqih Suci) yang baru mendapatkan restu dari Al Mukkarrom KH. Abdullah Faqih Langitan untuk berjuang di tengah masyarakat, namun beliau masih mempertimbangkan kembali untuk mendirikan sebuah Pesantren, meskipun pada saat itu semangat beliau untuk mendirikan Pesantren sangat besar. Hal ini didasari oleh perasaan khawatir beliau akan timbulnya nafsu حب التلاميذ, karena mendirikan pondok harus benar-benar didasari oleh ketulusan hati untuk Nasrul Ilmi (untuk menegakkan Agama Allah), bukan atas dorongan nafsu, apalagi punya keinginan mendapatkan santri yang banyak. Berkat dorongan dari guru-guru beliau yaitu KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Usman Al-Ishaqi, serta keinginan luhur beliau untuk Nasrul Ilmi, maka didirikanlah sebuah pesantren yang kelak bernama Mamba'us Sholihin. Adapun dana pertama kali yang digunakan untuk membangun pondok adalah pemberian guru beliau, KH. Abdullah Faqih Langitan. Pada saat pendirian Pesantren, KH. Masbuhin Faqih masih menimba serta mendalami ilmu di Pondok Pesantren Langitan.

Sebelum Pesantren Mamba'us Sholihin didirikan, Al Mukarrom KH. Abdullah Faqih Langitan sempat mengunjungi lokasi yang akan digunakan untuk membangun Pesantren. Setelah beliau mengelilingi tanah tersebut, beliau berkata kepada KH. Masbuhin Faqih, “Yo wis tanah iki pancen cocok kanggo pondok, mulo ndang cepet bangunen”.("Ya sudah, tanah ini memang cocok untuk dibangun pondok pesantren, maka dari itu cepat bangunlah"). Tidak lama kemudian beberapa Masyayikh dan Habaib juga berkunjung ke lokasi tersebut,. Diantara Habaib dan Masyayikh yang hadir yaitu KH. Abdul Hamid (Pasuruan), KH. Usman Al-Ishaqi (Surabaya), KH. Dimyati Rois (Kaliwungu), Habib Al Idrus dan Habib Macan dari Pasuruan.Pada tahun 1402 H atau tepatnya pada tahun 1983 M, barulah dilakukan pembangunan Musholla Pondok Pesantren Mambaus Sholihin (sekarang merupakan Pondok Barat). Saat itu KH. Masbuhin Faqih sedang menunaikan lbadah haji yang pertama. Adapun yang menjadi modal awal pembangunan ini berasal dari materi yang dititipkan kepada adik kandung beliau (KH. Asfihani Faqih) yang nyantri di Pondok Pesantren Romo KH. Abdul Hamid Pasuruan.Pada saat itu KH. Asfihani Faqih turun dari tangga sehabis mengajar, tiba tiba ada seseorang yang tidak dikenal memberikan sekantong uang, kemudian beliau pergi dan menghilang. Pada pagi harinya KH. Asfihani di panggil oleh KH. Abdul Hamid Pasuruan, beliau berkata “Asfihani saya ini pernah berjanji untuk rnenyumbang pembangunan rumah santri (jama’ah) tapi hari ini saya tidak punya uang, Yai silihono dhuwit opo'o nak !”. kemudian KH. Asfihani menjawab "saya tadi malam habis mengajar di beri orang sekantong uang, dan saya tidak kenal orang tersebut”. KH. Abdul Hamid berkata “ Endi saiki dhuwite ndang ayo di itung”. Lalu KH. Asfihani mengambil uang tersebut dan dihitung sebanyak Rp. 750.000,-. Yang pada akhirnya KH. Abdul Hamid Pasuruan memberi isyarat, bahwa yang memberikan uang tersebut adalah Nabiyullah Khaidir AS (Abul Abbas Balya bin Malkan), kemudian KH. Abdul Hamid Pasuruan berkata pada KH. Asfihani “Nak, saiki muliyo. Dhuwit iki ke’no abahmu kongkon bangun Musholla”.Suatu kisah yang tak kalah menarik, adalah saat Pondok induk dalam taraf penyelesaian pembangunan, Hadrotus Syaikh KH Abdul Hamid Pasuruan datang dan memberi sebuah lampu Neon 40 Watt 220 Volt untuk penerangan Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin. Padahal saat itu listrik belum masuk desa Suci. Mengingat yang memberi termasuk kekasih Allah, maka Pengasuh Pesantren yakin bahwasannya ini merupakan sebuah isyarat akan hadirnya sesuatu. Dan ternyata tidak berselang lama, tepatnya pada tahun 1976, masuklah aliran listrik ke desa Suci, dan rupanya Neon ini merupakan isyarah akan tujuan pondok pesantren Mambaus Sholihin.Pada pembangunan Tahap selanjutnya, KH. Agus Ali Masyhuri (Tulangan Sidoarjo) membeli sepetak tanah yang baru diberinya dari salah seorang anggota Darul Hadits, yang kemudian tanah yang terletak disebelah Masjid Jami' Suci "Roudhotus Salam" itu menjadi bakal dari Pesantren Putra Mamba'us Sholihin.III.

 Asal Mula Nama Pondok Pesantren Mamba'us SholihinAsal mula pondok ini diberi nama “At-Thohiriyah”. Mungkin oleh Pendiri dan Pengasuh di sesuaikan dengan nama desa tempat Pondok Pesantren ini didirikan, yaitu desa Suci. Sedang nama Madrasah saat itu adalah Roudhotut Tholibin. Ini disesuaikan dengan nama masjid Desa Suci "Roudhotus Salam”.Karena nama mempunyai makna yang penting, maka untuk memberi nama perlu perhatian dan pemikiran yang khusus, serta pemikiran nurani yang jernih dan membutuhkan petuah dari sesepuh yang benar-benar makrifat pada Allah.Suatu saat K.H Abdullah Faqih sowan pada guru Mursyid beliau untuk memohonkan nama yang cocok untuk Pesantren yang telah berdiri, oleh Al Alim Al Allaamah Al-‘Arif Billah Hadrotus Syaikh K.H Ustman Al-Ishaqi diberi nama “Mamba'us Sholihin“ (yang bermakna sumber orang-orang Sholeh)." Nama ini dimudlofkan pada isim fa’il, Insya Allah kelak santri yang mondok di Pesantren ini akan menjadi anak yang sholeh meski kurang pandai", begitulah fatwa beliau. 

Read more

Pengajian KH.H.Masbuhin Faqih (Sarah Fathul Qorib) Suci, Manyar Gresik



Ilmu ada dimana saja dan bisa datang kapan saja, yang lagi ingin mendalami ilmu agama (Kitab Kuning) kajian fiqih dalam kitab fathul qorib yang dibawakan dan disajikan oleh KH.H.Masbuhin Faqih adalah sangat fundamental dlam menjadikan diri ini ke dalam lautan ilmu. Langsung download aja biar bisa mnearik dan sebagai media pembelajaran dalam menyelami lautan ilmu. Selamat mendengarkan dan semoga bermanfaat..!!!

Langsung download disini :

Read more

Tuesday, March 14, 2017

Implementasi pemimpin dalam kaidah fiqih Tasharruful Imam 'Ala Alra'iyyah Manutun Bi-Almaslahah



(تَصَرُّفُ الْأِمَاِم عَلَى الرَّاعِيَّةِ مَنُوْطٌ بِالْمَصْلَحَةِ)

TASHARRUFUL IMAM ‘ALA AL- RA’IYYAH MANUTUN BI AL- MASLAHAH
“ kebijakan pemimpin kepada rakyatnya harus sesuai dengan kemaslahatan atau kesejahteraan rakyatnya”
Kalau kita baca dalam kitab asbah wa Al-nazair, kaidah ini mengharuskan kepada pemimoin untuk menegakkan keadilan, memprioritaskan orang atau kelompok yang lebih membutuhkan baru yang membutuhkan (al-ahamm tsumma al-ahamm) .
Dalam konteks Indonesia, kelompok yang sangat membutuhkan adalah kaum petani,nelayan,pedagang kaki lima, buruh, pengangguran, tuna netra, jompo, gelandangan, anak jalanan, orang-orang yang rumahnya dibawah kolom jembatan, di pinggir sungai, dan sejenisnya. Faktanya, justru mereka tidak pernah diperhatikan pemerintah. Fokus pemerintah adalah pengembangan dunia industry-perdagangan. Alokasi dana untuk kaum marginal jauh dibawah standar, dibawah jauh alokasi dana untuk sektor industry-teknologi. Akhirnya Indonesia menjadi Negara terbelakang, tertindas, dan mundur, karena mayoritas rakyat sengsara dan menderita ditelentarkan, minoritas rakyat maju justru difasilitasi secara melimpah dan merajarela.(Asybah wa al-Nazhair) hlm. 83-84
Read more

Monday, March 13, 2017

pekerja umum dalam al-qur'an


berbagai macam hal yang ada dalam kehidupan manusia salah satunya dalam hal mencari penghasilan sebagai bekal dan kebutuhan didunia manusia haruslah bekerja
nah di file mp3 ini dijelaskan sejarah upah kaum pekerja , dengan mengaitkan Al-qur'an , dan dalam sejarah islam.
ini hanya sekilas gambaran umumnya, karena sistem perbudakan pada zaman modern ini pun tetap ada dan merajarela. rakyat semakin rumit menempuh hidupnya untuk pennghasilan kebutuhan sehari-harinya. yang miskin semakin terpuruk, yang kaya semakin berkuasa.bahkan gaji seorang pembuat produk sangatlah murah jika dibandingkan dengan artis atau model dari produk  ini telah ada dan meluas di negeri kita Indonesia melaui sistem Kapitalis , neoimprialisme semakin menjadi-jadi. penjajahan melalui sistem ekonomi politik yang ujungnya hanya menindas masyarakat kecil.
Beberapa ciri produksi rumahan dalam modus produksi feodalisme
•         Produksi rumahan: penting bagi modus produksi feodal maupun kapitalis.
•         Peran perempuan dan anak-anak dalam produksi ini—sebagai tenaga kerja inti atau tambahan. Divisi kerja oleh patriarki.
•        Empat kategeori produksi rumahan:
1.       Produksi rumahan (untuk kebutuhan sendiri)
2.       Produksi komoditas (untuk pertukaran di pasar)
3.       Produksi wajib (untuk majikan, mendapatkan barang atau uang)
4.       Kerja upahan
Read more

Monday, November 7, 2016

Intisari Ngaji Ihya' Kh. Masbuhin Faqih

Ngaji minggu 06-11-2016
Ojok rumongso dowo umure lan athos atine
Neliti kekeleane dewe luih apaik timbang neliti keeleane wong liyo
Ojok sampek ngingkari  opo seng ora nyindak nang akal

Edisi ngaji selasa  11-08-2016
Jahlu Ditutur Oleh Nafsu ,Nur Ditutur Oleh Ilmu
Wong seng dwe akal, wong seng taat nang gusti allah
Baguse pekerti tergantung  kesempurnaan akale
Wong iku sempurno lek akale sempurno,luih wedih marang guti allah kalwan ngerjaaken perintah allah, ngelakoake larangane gusti allah


Read more