Showing posts with label opini. Show all posts
Showing posts with label opini. Show all posts

Sunday, September 2, 2018

Asia Game Sumber Kejayaan Indonesia


    Mempunyai keistimewaan sendiri bagi bangsa Indonesia sebab Asian Games 2018 tepat diadakan pada bulan Agustus, sehari setelah upacara Hari Kemerdekaan Indonesia yang ke-73 tahun, Asian Games 2018 menjadi kado terindah dan sekaligus secara tidak langsung dirayakan oleh peserta dari 45 negara.
Ada yang unik Asian Games yang diselenggarakan di Indonesia, Asian Games kali ini diadakan pada tahun 2018, dibuka pada tanggal 18 Agustus, serta Asian Games kali ini ke-18. Asian Games 2018 menjadi pembuktian bagi atlet untuk Indonesia selama 56 tahun, Indonesia pernah menduduki posisi kedua dalam Asian Games 1962 di Jakarta dengan perolehan mendali emas 11, 12 perak dan 28 perunggu, jumlah total 51 mendali, yang diikuti oleh 17 negara peserta. Namun setelah itu posisi Indonesia jauh merosot ke peringkat 17 dari jumlah peserta 45 negara pada Asian Games 2014 diIncheon, Korea Selatan.
     Dan pada Asia game 2018 ini Indonesia berhasil meraih 31 emas di Asian Games 2018. Sukses itu tak hanya sekadar sukses semu tuan rumah karena ada beberapa cabang yang menunjukkan geliat.
    Dengan Indonesia mampu meraih medali emas lebih banyak dibandingkan 4 emas, plus mendapat medali lebih banyak dari tahun 2014 (10 cabor), maka itu bisa jadi indikator kesuksesan kontingen Indonesia. Dalam mewujudkan ambisi tersebut, Indonesia telah berhasil membuat fondasi kukuh dengan prestasi yang diukir saat ini. namun tentunya dengan syarat pembinaan tetap berlangsung konsisten di tahun-tahun mendatang.
   Sebagaimana identitas dari negara Indonesia adalah negara berkembang tentunya peran Asia Games sangat mempengaruhi masyarakat khususnya dalam bidang olahraga. Dari beberapa prestasi yang gemilang dari masa Indonesia mengikuti Asia Games. Bahkan secara tidak langsung memperkenalkan identitas Indonesia ke penjuru dunia. Ini dibuktikan dengan pembukaan Asia Games yang begitu meriah perhelatan dan penggelaran budaya khas Indonesia. Sebagai tuan rumah, Indonesia punya keistimewaan untuk memasukkan cabang olahraga andalan yang biasanya tidak dipertandingkan di Asian Games.
 Di Asian Games 2018, Indonesia memasukkan pencak silat, jetski, bridge dan paralayang. Raihan 31 emas memang akan sulit diulangi Indonesia di edisi-edisi Asian Games yang akan datang. Namun bukan berarti sukses prestasi Indonesia di Asian Games akan menguap begitu saja seiring hilangnya status tuan rumah empat tahun ke depan. 
     Dan tuan rumah yang kedua kalinya bagi Indonesia mempunyai efek besar pada masyarakat untuk terus mengembangkan suatu potensi diri yang kompeten. Dan sangat krusial bagi elemen pemerintahan dalam membangun kapasitas produksi sumber daya manusianya beserta pembinaan dan perlengkapan fasilitas pembangunan dan pembiayaan. Sehingga mampu menciptakan produktivitas yang ideal bagi negara. Sehingga peradaban dimiliki Indonesia melalui momentum kompetisi ini yang akan menjadi Indonesia maju.
        Yang secara umum Negara maju adalah nagara yang mampu memaksimalkan segala potensinya, baik potensi sumber daya alam atau sumber daya manusia untuk membentuk suatu kesatuan dalam menyejahterakan setiap masyarakatnya.
    Dengan gairah semangat yang telah dibuktikan oleh atlet pilihan Indonesia, bahwa Asian Games 2018 adalah momentum yang membanggakan sebagai sebuah bangsa. Dengan infrastruktur yang disiapkan, akan sejajar dengan bangsa-bangsa maju yang lain. Pembuktian asian game 2018 ini adalah wujud  menggali kembali peran olahraga dalam konteks perkuat semangat kebangsaan yang pernah digagas oleh Presiden Soekarno. Soekarno mencari ruang di luar politik untuk menyatukan bangsanya tanpa membedakan ideologi, politik, dan kelas sosial. “Ruang kebangsaan” itu ditemukan dalam olahraga,” 
     Soekarno mengatakan bahwa olahraga adalah bagian dari “Revolusi Kelima”, yaitu revolusi manusia Indonesia.
Dengan revolusi olahraga, maka akan membentuk “manusia Indonesia baru” yang berani melihat dunia dengan muka yang terbuka, tegak fisik, mental kuat, rohani kuat, jasmani kuat. Membentuk manusia Indonesia baru adalah tujuan dari apa yang dicanangkan Soekarno pada Peringatan Hari Kemerdekaan 17 Agustus 1956 tentang “Revolusi Mental”.
     Revolusi mental adalah “suatu gerakan untuk menggembleng manusia Indonesia agar menjadi manusia baru, yang berhati putih, berkemajuan baja, bersemangat elang rajawali, berjiwa api yang menyala-nyala”. Dengan prestasi olahraga, bangsa Indonesia akan menjadi bangsa yang mulia, bangsa yang tegak berdiri sejajar dengan bangsa-bangsa maju lainnya. Karena itu, olahraga tidak dapat dipisahkan dengan tujuan menjunjung tinggi nama dan kehormatan bangsa dan negara.
    Untuk terus mengembangkan dunia olahraga mulai fasilitas dan sumber daya manusianya. Yang mempunyai potensi untuk bergerak ke sana, sehingga dapat menumbuhkan perekonomian nasional. 
    Oleh karena itu mulai dari suatu kejayaan dalam Asia game ini adalah perolehan upaya Indonesia menuju maju. Dengan eksistensi pada suatu kalangan muda atau tua yang telah membawa nama Indonesia dikenal oleh negara-negara Asia hingga dunia. 

Read more

Monday, July 23, 2018

Nyantri (Nyandang Tresno Jalarane Ati)



Nama santri sudah menjadi familiar di tengah masyarakat komplek. Karena pesantren pada umumnya telah memenuhi kriteria dalam mengamalkan panji-paji Islam serta mampu mengembangkan efektivitasnya dalam masyarakat sebagai pengabdi atau pelayan masyarakat.  Dari beberapa aspek kehidupan  masyarakat dari kesantriannya di pesantren mulai beberapa kegiatan yang santri lakukan sebagai identitasnya.
Pesantren terlibat dalm proses penciptaan tata nilai yang memiliki dua unsur utama: yaitu peniruan dan pengekangan. Unsur pertama, yaitu peniruan, adalah usaha yang dilaksanakan terus-menerus secara sadar untuk memindahkan pola kehidupan para sahabat Nabi Saw dan para ulama salaf ke dalam praktek kehidupan di pesantren. Tercermin dalam hal berikut; ketaatan beribadah ritual secara maksimal, penerimaan atas kondisi materil yang relatif serba kurang, kesadaran kelompok yang tinggi.
            Unsur kedua, pengekangan,  memiliki perwujudan utama dalam disiplin sosial yang ketat di pesantren. Kesetiaan tunggal kepada pesantren adalah dasar pokok disipllin ini, sedangkan pengucilan yang dijatuhkan atas pembangkangnya merupakan konsekwensi mekanisme pengekangan yang dipergunakan.
            Disamping topongan moril dari seorang kyai bagi kehidupan pribadinya. Kriteria yang biasanya digunakan untuk mengukur kesetiaan seorang santri kepada pesantren adalah kesungguhanya dalam melaksanakan pola kehidupan yang tertera dalam literature fiqh dan tasawuf. Salah satu bentuk penerapan kreteria ini adalah sebuah sebutan “ahli maksiat” bagi semua santri yang melanggar dan dikucilakan.
Dengan begitu santri tak akan bisa lepas dengan sosok yang dikultuskan oleh seorang pengasuh (Kiai) yang sangat erat dengan istilah Barokah atas proses belajar dan menggali pengalaman pesantren. Pada taraf pengalaman pun santri telah banyak mencicipi problematika lautan massa dengan menjadi seorang pelopor atau sebagai regenerasi pemimpin. Dan lebih dekatnya sangat dekat dengan orang lemah. Karena dengan sebuah tata nilai kesederhanaan di pesantren yang  mampu menjadi pandangan hidup seorang santri.
Dalam beberapa aktualisasi imu beramal sholeh selalu dengan maqolah Ulama “ Wa bil khidmati Irtafau, Wa bil khurmati Intafau” bagaimana menjadi seorang bermanfaat  bagi orang lain, tak lebih. Santri telah mencapai kejayaannya yang mempunyai pandangan berkat pengalaman dari cakrawala luas dan pendalaman ngaji di Pesantren.
Secara gradual penerapan ilmu yang ada dipesantren baik itu melalui pengajaran dan perwujudan pada sang Kyai menjadi sautu intensitas yang tak pernah padam oleh sautu zaman. Dengan beberapa tantangannya tentunya pesantren tetap menjaga sautu keilmuan dan tradisi untuk tetap mampu memberi ruang gerakan pada solidaritas menggali ilmu dan khazanah pesantren. Sejalan dengan itu, maka tak heran sosok panutan adalah kebaikan yang menyerapi dalam lautan kalbu.  Dan akan menjadi kekuatan penuh atasnya dengan apa yang telah Pram katakan “ kaum terpelajar harus ikuti kata hati”  santri telah menjalaninya dan memberkatinya dengan eksistensinya di masyarakat. Maka Apapun status dan profesinya santri tetap dengan Nyantri, nyanding tresno ati

Read more

Friday, March 24, 2017

Kampus Take Me Out


Hari kamis 23 maret mahasiswa dikejutkan dengan baliho besar yang terpampang di papan  pengumuman berisi informasi weeding party yang menggiurkan mahasiswa ke dunia baper, apalagi kaum hawa yang bergairah melihat sambil mengelus dada seraya berkata "kapan aku seperti dia?" Gambar itu sangat mempengaruhi mahasiswa. Karena yang lagi meerid adalah srjana kampus yang sarjana (TU kampus ) dengan mahasiswa yang berstatus semester 6. Membuat  Ribuan jerit ingin sepertinya hahahah...terkesima di dunia pelaminan ternyata, gak lama akan banyak terob dan tutup buku sepertinya melihat dari kejadian itu. Menceritakan cinta jodoh bersemi dikampus, terpesona Bergegas pulang dan minta doa restu kepada orang tua .
                Yang lebih heboh lagi karena poster baliho tersebut besar menduduki area kampus, menjadi suatu perhatian lebih pada mahasiswa yang jauh sebelumnya hanyalah beberapa informasi nilai, jadwal,kreasi dan corat coret seni kreatif dari mahasiswa.               

  Ini tidak lepas dari keberadaan kampus di suatu daerah. Kampus merupakan perguruan tertinggi yang dilalui oleh kaum ilmuwan untuk menemukan dan meningkatkan ilmu yang lebih tinggi lagi ..iya seee..??sepertinya itu hanyalah bualan di warung kopi saja. Tidak menjadi realistis di kampus. Apalagi mahasiswa yang berstatus gandengan atau punya pasangan,menjadi nilai plus baginya disamping ada penyemangat dan calon pendamping yang ada. Ngenes kalau saja tidak punya ...hahahahah pinta seorang teman yang antusias melihat baliho itu dengan memikirkan perencanaan yang matang. Karena ini memang suatu keistemewaan disini. Wah.. Seorang yang mulai bingung akan kemana kuliah besok, lebih optimis kuliah lantaran ada pasangan yang mendukungnya wawaa..its amazing. Kuliah yang semestinya mencari kebijaksanaan dalam ilmu, menjadi suatu hal yang langkah, perdebatan suatu kelas menjadi pertemuan yang romantis, berpikir kritis transformatif menjadi berfikir perasaan untuk tidak saling menyakiti. Tulisan yang penuh kebimbangan jati diri berubah tulisan dari hati ke hati..             
   
Yang aslinya sekitar kampus kreatifitas keilmuan mahasiswa menjadi kreatifititas pernikahan. Memang menarik, dikala tulisan-tulisan sekitar kampus sudah basi, mahasiwa di asumsikan poster indah nan menawan.                
 Kampus tidak hanya proses belajar mengajar, duduk manis di depan dosen, mendengarkan secara khusuk kalam-kalam dosen dengan khusuk. Itu internal yang dimiliki kampus, yang hanya mampu membawa mahasiswa dalam keheningan cipta dalam berproses. Maka nilai eksternal kampus juga harus di benahi dan ditingkatkan, orang-orang yang menggoreskan sejarahnya tidak pernah menyebut nilai IPKnya berapa, lantaran apa yang telah kau tularkan kepada manusia?? Ini tak asing lagi tokoh seperti soekarno, bung hatta, cokrominoto, H.agus salim,Gus Dur dsb. Adalah orang yang mempunyai integritas tinggi dalam keilmuannya. Dengan meningkatkan diri secara step by step.               
  Oleh sebab itu kampus menjadi urgenitas dalam menciptakan mahasiswa ke dalam dunianya, secara idealnya dari bebagai fakultas yang ada. Dengan memperbanyak kajian-kajian yang sudah dilewatinya, nyatanya pun itu hanyalah lamunan seorang pujangga dengan syiirnya. Hahah..                 Semakin banyak pujangga semakin ramai kampus ini seperti yang terpampang di baliho yang terlihat indah itu. Akan ada banyak kata cie-cie, kasmaran ya?, aku gak bisa move on, dll. Mahasiswa tersihir dengan baliho tersebut dengan tambahan surat undangan yang tersebar ke sebagian besar mahasiswa . Lagu sungguh senangnya pengantin baru menjadi lagu khas di kampus. Dengan wajah yang berseri-seri. Duh kasihan nasib jomblo yang bernada revolusi harga mati, Yang tak kunjung selesai dialaminya.           

      Kampus pun tidak lepas yang namanya mahasiswa,yang berada didalamnya. Mahasiswa adalah orang berpendidikan dan bermukim di perguruan dan di sekolah tinggi. Yang selalu ada di dalam kelas-kelas yang mengarungi keilmuan dan pengetahuan agar kelak menjadi pelopor masyarakat. Mahasiswa sudah tidak lagi bisa bergerak dan berkuasa dengan kreatifitasnya, karena belum mengenal identitas kolektefifitasnya. Berbagai macam acara besar, rapat kemahasiswaan dan keorganisasian pun telah la Kampus pun tidak lepas yang namanya mahasiswa,yang berada didalamnya. Mahasiswa adalah orang berpendidikan dan bermukim di perguruan dan di sekolah tinggi. Yang selalu ada di dalam kelas-kelas yang mengarungi keilmuan dan pengetahuan agar kelak menjadi pelopor masyarakat. Mahasiswa sudah tidak lagi bisa bergerak dan berkuasa dengan kreatifitasnya, karena belum mengenal identitas kolektefifitasnya. Berbagai macam acara besar, rapat kemahasiswaan dan keorganisasian pun telah lama usai namun belum bisa memberi bukti besar pada kampus. Aduh...suudon ini semoga tidak benar kawan...            

     Mahasiswa lebih bergerak dan menguasai ketika ada pendampingnya itu dirasakan oleh sebagian orang yang berpengaruh di kampus dengan pelayanan dan pemberian ke kampus sebagai penyeimbang dalam berproses menuju gelar wisuda, atau yang sudah dapat toga lamanya di kampus. Pelayanan orang yang sudah berpasangan selalu berwarna wajahnya pergi ke kampus ada sosok yang diidamkan dan disanjungkan. Mental kelebayan mulai muncul perlahan menjiawi mahasiswa. Keppo lho..mau tau apa mau banget?.. Itu pertanyaan yang membahagiakannya. Sudahlah itu terlalu berlebihan dalam merayakan kebahagiaaan, yang sejatinya senang-senang bersama pasangan, tidak usah menghebohkan dengan tawa gambarnya. Karena ini tidak sesuai norma kemanusiaan. Muncul unsur kecemburuan sosial, kalau orang ramai menghadapi kasusu penista agama, disini ramai penistaan diri kaum jomblo hahah ..berbagai apa saja yang disiapkan oleh bagi yang berpasangan sampai beradopsi kepada mahasiswa.             

   Mulai dari Penampilanpun menjadi suatu kebutuhan baginya, dengan bergaya aku ada dalilnya kepada temannya. Mulai dari aksesoris ditata rapi disebagian badan untuk menjadi mahasiswa yang keren dan bisa menarik perhatian pasangan khususnya dan  kaum hawa umunya. Nilai keaktifan mahasiswa diukur dari dia punya pasangan atau tidak. Kegiatan literasi mahasiswa yang menjadi rutinitas menciptakan obrolan basi dan membosankan karena memang sudah tergiur dengan kajian yang baper. Dan lebih senang dan serius menbahas kajian kawin, perlahan terhegemoni oleh yang sudah punya pasangan dan ingin mendalaminya untuk segera dapat merasakannya. Semoga tidak terjadi..heheheh

 
Read more

Thursday, March 16, 2017

Arti sekilas “CINTA”



Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, perasaan belas kasih dan kasih sayang. Pendapat lainnya, cinta adalah sebuah aksi/kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut.
Contoh nya adalah pria/laki-laki yang mencintai wanita/perempuan. Contoh Bapak Ivan sebagai laki-laki, mencintai Mama Ivan sebagai perempuan.
Cinta juga berarti menyukai atau suka terhadap suatu objek baik itu objek nyata, mau pun tidak nyata.( Sumber: wikipedia)
Dalam KBBI dijelaskan bahwa cinta adalah suka sekali, sayang benar.
Erich Fromm menulis “The Art of Loving” karena cinta seperti seni yang memerlukan pengalaman & pengetahuan.ada Banyak definisi cinta adalah rasa suka pada sesuatu yang kebetulan, mirip anugerah, namanya jatuh cinta. Mayoritas masalah cinta: problem dicintai sebagai obyek bukan problem mencintai sebagai bakat/perilaku. Problem cinta yg dilakukan pertama kali ialah bagaimana mencintai, bukan mencari yang dicintai. Orang berpikir bahwa mencintai itu sederhana, yang sulit ialah mencari obyek yang tepat untuk dicintai. Cinta bukan hanya sekadar perasaan suka. Cinta seperti seni, walau ada unsur bakat tapi harus dipelajari. Rumus yang ditawarkan Fromm: cinta itu aktif bukan pasif. Maka, bangunlah cinta bukan jatuh cinta. Manusia modern menurut Erich Fromm ada empat gaya orientasi cinta terhadap apa yang dicintainya.
Pertama yaitu gaya reseptif, hanya fokus terhadap apa atau siapa yang dicintai dan bersifat pasif. Mencintai si pemberi atau apa yang tampak seperti cinta. Pemenuhan keinginan adalah sumber kebahagiaan. hanya fokus terhadap apa/siapa yang dicintai dan bersifat pasif. Mencintai yg memberinya atau apa saja yg tampak seperti cinta. Pemenuhan keinginan adl sumber kebahagiaan
Kedua yaitu gaya eksploitatif, bentuk ekstrim reseptif. Ada unsur pemaksaan/manipulasi agar dicintai. Mencintai segala hal yang bisa ‘dimanfaatkan’ untuk kepentingan, lalu pergi saat bosan dan tidak berguna. Bentuk ekstrim dari Reseptif. Ada unsur pemaksaan/manipulasi agar dicintai.
Ketiga yaitu gaya menimbun, fokus pada yang ia cintai, merasa aman dan nyaman memiliki sesuatu. Cinta mendobrak sekat antar manusia namun tetap mengizinkan untuk jadi diri sendiri, kesatuan simbiotik. Ia akan menyimpan & menjaga, merasa bersalah saat ‘memanfaatkan’, apalagi membuang yg dianggap miliknya. Gaya ini semacam kepemilikan, penuh kenangan, masa lalu. Cenderung dingin dan tidak produktif. Gaya ini adl semacam kepemilikan, juga kenangan, masa lalu dsb serta cenderung dingin & tidak produktif
Keempat yaitu gaya pasar, memperlakukan cinta layaknya dagang. Membungkus diri agar orang lain tertarikCinta seperti komoditas yg bisa diperoleh keuntungannya, relevan dgn modal (penampilan) yg dikeluarkan.
Cinta adalah sikap, orientasi watak yg menentukan pribadi dgn dunia. Tidak hanya menuju satu objek cinta. jika seseorang mencintai seorang saja dan tak peduli lainnya, itu bukan cinta tapi egoisme yang diperluas.
Cinta sebenarnya tak tergantung obyek. Orang yg mencintai hanya menunggu saat menemukan ‘obyek’ yg tepat. Cinta tak tergantung obyek. Orang yang mencintai hanya menunggu saat menemukan obyek yang tepat. "Cinta itu penting, karena cinta adalah jawaban atas problem eksistensial manusia."  Erich Fromm Cinta yg matang adalah kesatuan, dgn tetap mempertahankan keutuhan individualitas & kekuatan aktif diri.



Read more

Tuesday, February 7, 2017

Tradisi berfikir kritis sebagai pemikiran kader PMII





Teks wahyu jumlahnya terbatas,sementara peristiwa yang terjadi dalam sejarah manusia tak terbatas (Ibnu Rush).
Jangan mengukur baju sendiri.(Gus Dur)
Pikiran adalah bunga: ujaran adalah kuncup; dan tindakan adalah buah di dalamnya. (Ralph Waldo Emerson)
Betapa khasnya alam pemikiran bagi para kader PMII untuk mengenal dirinya dan sekitarnya dalam suatu organisasi yang berorientasi pada massa. Seperti yang telah menjadi jargon PMII sendiri yakni dzikir, fikir dan amal sholeh. Fikir disini berada di tengah-tengan yang menjembatani antara bemunajahah dengan Allah dan manusia. Maka disini sangat menjadi modal integritas diri untuk menjadi insan yang benar-benar  disebut ululalbab ( Orang yang brfikir). Disitulah terbentuknya munasabtunnafsi secara perlahan dan menunjang kreativitas akal Karena selama wahyu tidak ada yang menjelaskan secara detail dan kongkrit, maka akal yang menjadi tonggak dari masalah. Yang telah dibawah oleh para sahabat, tabiin,dan mujtahid lainnya yang lebih dikenal dengan qiyas. Korelasi antara akal dan naql yang dipdukan secara utuh. Dan menjadikan akal sebagai rahmat dan anugerah yang diberikan oleh tuhan kepada manusia.
Kekayaan berfikir sudah menjadi pola kehidupan pada zaman klasik yang mempertemukan tokoh islam Imam Ghozali dan Ibnu Rush dengan kaya pendapat dan pandangan. Dan aspek perdebatan modern yang tidak terperosok kedalam jurang kekafiran (takfir). Yang telah menjadi sejarah peradaban islam melalui pemikiran-pemikirannya. Dan dengan karya-karya yang fundamental. Dimana mereka selalu mempunyai pandangan sendiri mengenai hukum, social,politik dll.  Imam ghozali yang cederung tidak mengandalakn akal semata, berbeda dengan Ibnu Rusd, beliaulah yang menjawab tantangan-tantangan zaman yang tidak ada pada zaman nabi; seperti jual-beli online dengan ijtihad atau penalaran akal(aql). Itulah yang diajarakan dalam khazanah islam klasik
Maka perlunya sifat kekritisan setiap kader PMII yang ditandai dengan usaha menjernihkan persoalan-persoalan yang dipermasalahkan. Apalagi dengan era informasi yang semakin cepat menyebar dan instan didapatkan harus bisa membaca,memandang dan berfikir lebih dalam lagi. Mencari kebenaran yang hakiki dan dari akal pemasalhan secara jelas sumbernya. Ibarat ingin mengonsumsi kapsul, jangan langsung dilahap begitu saja tapi juga harus dipikirkan,dirasakan, dan diperhatikan sudut pandangnya, serta secara ilmiahnya. Keilmiahan berfikir,berucap dan bertindak.
Berfikir kritis dimulai bagaiman seorang kader memandang sesuatu,peristiwa,masalah,dan realita yang ada. Tidak menjadikan apa yang dilihat panca indera selalu benar, apa yang disampaikan oleh seorang  benar, karena jika diri ini dikotak-kotakkan oleh sesuatu,baik pendapat maupun pergerakannya maka  kalau sampai ternyata pengkotak-kotakan itu terjadi dalam  kehidupan para kader PMII, maka menjadi sumber terpecahnya silaturahmi, mata air kebencian dan bara sekam pertengkaran-pertengkaran tema yang sesungguhnya terjadi adalah satu diantara tiga kemungkinan: Lawakan, Kebodohan, dan Tipudaya.
Karenannya tradisi kritis harus dimiliki dan ditumbuhkan kepada para kaderPMII untuk menjadi manusia yang merdeka. Mengutip perkataan soe hok gie” hanya ada 2 pilihan, menjadi apatis, atau mengikuti arus.tetapi aku memilih manusia merdeka.” Artinya apa, bahwa wewenang untuk berkendak,berfikir dan berkata secara bebas adalah jalan untuk menumbuhkan nalar kritis hingga muncullah nilai keilmuan yang progresif dan produktif. Menyusun instruksi nalar yang berfikir kritis yang membuat gebrakan kahazanah yang berbobot dan bernilai. Karena begitu muliahnya orang yang berfikir dalam satu jam lebih baik dari orang yang beribadah seribuh tahun. Apalagi dengan pemiiran-pemikiran kritis .
Melalui tulisan ini saya ingin membangun ruang yang ramai dengan dengan diskusi,sharing, dan perdebatan. Yang kini perlahan sirna dan terkikis dengan terhegemoni budaya hedonisme dan dangkal berfikir.  Tidak memandang dan berfikir yang lebih jauh lagi,lebih dalam dan luas lagi. Bagaiman berfikir kritis ini menjadika para kader menjadi pelopor bagi kaum yang tertindas, kaum jelata, dan kaum pinggiran. Yang sampai saat ini masih menjadi tugas penting pemerintah mengurusi rakyatnya . jika hanyalah beban,tanggungan dan rampasan yang kian tumpah menjadi-jadi maka dengan budaya kritis inilah para kader bisa meruntuhkan rezim.
Perjuangan dimulai praksi berfikir kritis yang menjadih roh dalam berkarya diantara rakyat yang tertindas dan miskin dan pembebasan terhadap rakyat. Berakal dari nilai kritis dan transformatif sekalipun tidak bermutu meurut ukuran akademisi. Menjadi refleksi dalam dunia kemahasiswaan khususnya para kader PMII. Sebab kelahiran bangsa ini diprakarsai bukan oleh politisi culas apalagi aparat korup, melainkan geliat anak-anak muda yang berani, kreatif dan radikal. Saatnya para kader PMII  memjadi peranan : diawali dengan dukungan agar para kader  terlibat organisasi, diskusi. membiarkan mereka untuk sering mengunjungi perpustakaan dan warung kopi menceburkan mereka dalam wilayah yang bahaya. Wilayah dimana rakyat mempertaruhkan nyawa untuk membela hak miliknya. Agar tumbuh budaya kritis yang lama dirindukan oleh seorang kader . Kalau para  kader PMII mampu mengantarkan itu kita tidak hanya melahirkan kader mujahid tapi kader yang  mulia: dimana para kader mau mengorbankan diri untuk kepentingan yang lebih besar ketimbang dirinya-sendiri.


Read more

Tuesday, January 17, 2017

MEMPERKUAT SUBTANSI PEMIMPIN

            


Akhir-akhir ini, kampus sedang ramai dengan pemilu Reformasi BEM yang menjadi hal urgensi dalam keorganisasian. Berbagai macam calon menebar pesona dalam meyampaikan visi misi mereka di pamflet-pamflet yang tertempel di dinding-dinding  kampus dan pondok. Tidak ketinggalan,itu juga membangun kredibilitas untuk merekrut massa dan gerakan – gerakan solidaritas dan loyalitas. Memberi kehidupan baru untuk Kampus yang lebih maju dan agresif dalam dunia institusi, begitu juga memperindah integritas dalam pondok pesantren. Bagaimana peran seorang pemimpin yang idealnya adalah imam bagi umatnya. Dikutip dari  ungkapan Gus Dur dalam bukunya yang berjudul "islam ku islam anda islam kita", beliau mengatakan “orientasi seorang pemimpin terkait langsung dengan kesejahteraan rakyatnya yang akan dipimpin, dan bagaimana menjadi panutan yang memberi nilai kehidupan rohani dan jasmani bagi pengikutnya. Selama kepemimpinan itu mendatangkan kesejahteraan langsung pada rakyatnya, selama itu pula kepemimpinan yang ada memiliki legitimasi dalam pandangan umat islam”.
Tiada Agama tanpa adanya suatu kelompok / masyarakat, tiada masyarakat tanpa kepemimpinan dan tiada kepemimpinan tanpa sang pemimpin . disini tampak jelas , arti seorang pemimpin bagi islam. Ia adalah pejabat yang bertanggung jawab tentang penengakan perintah-perintah islam dan pencegah larangannya. ( Amar Ma’ruf Nahi Munkar). Karenanya, pemimpin dilengkapi dengan kekuatan efektif, yang jelas kekuatan efektif inilah yang dinyatakan sebagai “wewenang kekuasaan efektif”
Namun seringkali ia akan terjebak dengan harapan yang menyangkut kesejahteraan dan kemaslahatan dalam kepemimpinannya. Bagaimana menjadikan mahasiswa aktif, hingga mencetak  kader regenerasi yang berorientasi kepada massa secara prokduktifit. Kesejahteraan hanya menyangkut kenyatan-kenyataan lahiriyah dan angka statisik belaka. Seperti kepemilikan benda, dan memberikan bukti yang nyata. Tidak hanya abal-abal dalam keorganisasian majemuk. Masalah kesejahteraan juga menyangkut kemerdekaan berbicara dan berpendapat. Kedaulatan hukum dan persamaan perlakuan bagi semua elemen hak itu tentunya akan menyagkut kebebasan berorganisasi , kebebasan mahasiswa mnenetukan bentuk kampus yang mereka ingin dan beberapa aspek kehidupan agar tecipta rasa kenyamanan, dan nilai-nilai kolektifitas yang terlahir di pesantren.
Dengan demikian peran pemimpin kampus yang akan jadi nantinya agar ditintunkan untuk menggabungkan dialektika modern kampus dan nilai klasik kepesantrenan, inilah yang menjadi momok wacana besar bagi kalangan kaum santri agar nantinya tidak hanya berambisi dalam dunia keagamaannya tapi juga dunia kemodernan ( Globalisasi ). menjadi hal yang sangat penting dikalangan pesantren dengan adanya kampus yang berperan dalam dunia kompetesi dunia luar, dan pesantren sebagai benteng perlawanan dari luar. Maka, sosok pemimpin yang akan menjadi tokoh dalam kampus untuk bisa mensejahterakan mahasiwa dengan gerakan turun dari menara gading .membentuk gerakan-gerakan mahasiswa yang efektif,agresif, dan progresif.
Mengamati pada kepemimpinan islam, dalam islam kepemimpinan harus berorientasi kepada pencapaian kesejahteraan orang banyak. Sebuah adagium terkenal dari hukum islam adalah kebijakan dan tindak seorang pemimpin haruslah terkait langsung debgan kesejahteraan rakyat yang dipimpin “tasharruf al-imam ‘ala al ra’iyyah manutun bil al-maslaha”. Jelaslah dengan berorientasi dengan hal itu, mempunyai makna yang mendasar tentang sebuah pergerakan . yang tidak hanya dengan konsep belaka yang berlebihan. Serta memahami tugas dan kewajibannya, tidak asyik dengan kekuasaan dan kemudahan-kemudahan yang diperolehnya. Apalagi seorang pemimpin yang takut . takut dengan bertindak tegas, takut dengan kritikan,tekanan diri dari dalam dan luar ,dan takut berjuang perlawanan yang tertinggal dan terabaikan. Memang begitu mudah jika hanya menikmatinya tanpa bersusah panyah memajukannya. Tapi sebenarnya sulit bukan??
Read more

Friday, November 25, 2016

Pendidikan untuk apa?

             


  Sebagian orang berharap masa depannya akan lebih cerah ketika memutuskan meneruskan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Tapi ternyata da faktor-faktor lain yang tak kalah penting.

  Secara umum, lulusan perguruan tinggi biasanya memang mendapatkan upah yang lebih tinggi dari yang tidak bergelar sarjana.

“Jika terjadi mobilitas kelas di Amerika, itu terjadi berkat pendidikan,” ujar Sean C. Bird, dekan di Washburn University kepada The New York Times. Menurutnya, kampus juga merupakan ruang transformasional.

“Mahasiswa memiliki cara bicara yang berbeda, berpikir, berpakaian, dan berjalan yang berbeda daripada yang lain (nampak intelek),” ungkapnya. Inilah yang menyebabkan mereka memiliki nilai lebih.

Akan tetapi, tak semua orang dengan gelar sarjana akan beruntung di bursa lapangan kerja, sebab banyak yang kurang kompeten di lapangan kerja tanpa keahlian khusus.

   E. Whitney Soule, dekan di Bowdoin College, menyatakan hal yang senada terkait lulusan perguruan tinggi. Ia mengamati, setiap mahasiswa memiliki harapan akan segera memperoleh pekerjaan setelah lulus. “Kau mengira akan segera memperoleh pekerjaan setelah lulus, tapi kau mungkin tidak memikirkan apa yang bisa dikerjakan,”

Tapi jangan senang dulu.
kita tidak menjadi jaminan mereka mudah memperoleh pekerjaan,”

   Bursa lapangan kerja, menurutnya, mudah dimasuki bila seorang pelajar tak hanya pintar berteori namun juga memiliki kemampuan khusus yang bisa diandalkan di perusahaan, misalnya kemampuan mekanik, desain, dan lain sebagainya.

   Sebagaimana yang dikatakan ki hajar dewantara, "Pengajaran yang diberikan oleh pemerintah kolonial hanya untuk menjadi buruh,  karena adanya ijazah itu tidak untuk mengisi pendidikan yang sesungguhnya dan tidak untuk mencari pengetahuan dan kemajuan".

   Dengan demikian, mahasiswa hanya disuruh belajar untuk lulus jadi sarjana. Mereka hanya mengejar status bukan proses untuk menjadi sarjana. Akhirnya mereka jadi tak punya pemahaman apa-apa terhadap proses pendidikan yang sudah dilalui. JobsDB,  sebuah portal pencari kerja memaparkan lebih dari 66 ribu lulusan sarjana baru di Indonesia tidak terserap perusahaan dan berpotensi menjadi pengangguran, sementara jumlah lulusan sarjana baru setiap tahun mencapai sekitar 250 ribu.

  Sulitnya lulusan universitas lokal memperoleh pekerjaan sudah terlihat dari angka pengangguran terdidik Indonesia yang meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pada Agustus 2014, di Indonesia ada 9,5 persen (688.660 orang) dari total penganggur yang merupakan alumni perguruan tinggi.

   Mereka memiliki ijazah diploma tiga atau ijazah strata satu (S-1). Dari jumlah itu, penganggur paling tinggi merupakan lulusan universitas bergelar S-1 yang mencapai 495.143 orang.

   Angka pengangguran terdidik pada 2014 itu meningkat dibandingkan penganggur lulusan perguruan tinggi pada 2013 yang hanya 8,36 persen (619.288 orang) dan pada 2012 sebesar 8,79 persen (645.866 orang).

Berdasarkan hasil studi Willis Towers Watson tentang Talent Management and Rewards sejak tahun 2014 mengungkap, delapan dari sepuluh perusahaan di Indonesia kesulitan mendapatkan lulusan perguruan tinggi yang siap pakai.

   Masih menurut hasil studi itu, semestinya perusahaan tidak sulit mencari tenaga kerja, sebab angka pertumbuhan lulusan perguruan tinggi di Indonesia setiap tahun selalu bertambah. Sementara itu, angka permintaan perusahaan terhadap tenaga kerja selalu lebih rendah dari pada jumlah lulusannya.

"Setelah India dan Brasil, Indonesia menempati peringkat ketiga sebagai negara dengan pertumbuhan lulusan universitas lebih dari 4 persen dan rata-rata surplus 1.5 persen per tahun. Tapi, perusahaan tetap kesulitan mendapatkan karyawan yang berpotensi tinggi," kata Consultant Director, Willis Tower Watson Indonesia, Lilis Halim.

Ia menambahkan susah terserapnya lulusan perguruan tinggi Indonesia karena tidak memiliki skill yang dibutuhkan perusahaan dan tidak punya critical skills. Kampus seperti tidak memberikan peningkatan pada kemampuan sumber daya manusianya.

   Maka solusi apa yang tepat Untuk model pendidikan yang seperti itu?
Kiranya,  pendidikan harus merupakan milik bersama yang direpresentasikan dalam kesamaan kesempatan mengakses pendidikan,hingga wawasan yang berorientasi untuk keadilan seorang dalam memperoleh pendidikan ,begitu pula menciptakan skill yang berdominasi untuk bersama.

"Skill adalah langkah utama memasuki dunia kerja, setelah itu harus punya critical skills jika ingin berkembang dan masuk jajaran manajemen perusahaan,sekaligus managemen permberdayaan" kata Lilis.

   Berdasarkan studi itu, Lilis mengatakan,  di era digital saat ini lulusan perguruan tinggi juga harus punya digital skills, yaitu tahu dan menguasai dunia digital. Agile thinking ability (mampu berpikir banyak skenario) serta interpersonal and communication skills -(keahlian berkomunikasi sehingga berani adu pendapat).

   Terakhir, menurut dia, para lulusan juga harus punya global skills. Skil tersebut meliputi kemampuan bahasa asing, bisa padu dan menyatu dengan orang asing yang berbeda budaya, dan punya sensitivitas terhadap nilai budaya.

Ini berarti pengalaman jauh lebih penting dari ijazah jika ingin bisa bersaing dalam bursa lapangan kerja yang bergengsi.

   Tidak hanya berhenti disitu, dalam pendidikan kaum tertindas" karangan Paulo Friere seorang aktivis pendidikan. Paulo Friere menerangkan konsep pendidikan bagi kaum tertindas agar merdeka dan berdaya. konsep pendidikan yang ditawarkan oleh Paulo Friere adalah dialogika. dialogika merupakan konsep pendidikan yang menekankan metode dialog.
        metode dialog yang dimaksud adalah adanya hubungan timbal balik antara pendidik dan peserta didik dalam proses pendidikan. hubungan timbal balik menyertakan posisi peserta didik dalam proses pendidikan. peserta didik bukanlah obyek pendidikan, namun harus dipandang sebagai subyek pendidikan. sebagai subyek pendidikan, peserta didik mempunyai potensi, kodrat, dan kemauan yang harus diperhatikan. pendidikan hanya sebatas membantu "lahirnya" potensi peserta didik.

     Di sisi lain ada hal yang menarik dari Riwayat kehidupan Ki Hajar dewantara beliau memberikan kita dua hal bahwa dunia pergerakan dan penulisan harus dikenali oleh seorang yang bergelut dalam fakultas pendidikan, atau mereka yang akan menjadi guru. keduanya sangat penting karena mengasah rasa kemanusiaan. Kita tentu sepakat bahwa menjadi guru merupakan panggilan kemanusiaan bukan hanya sekadar panggilan profesi dan gaji meskipun kesejahteraan guru harus tetap diperhatikan. Jika  Prof. Muhajir Efendi ingin pendidikan ini maju,Alangkah baiknya Menteri Pendidikan dan Kebudayaan agar menghimbau para calon pendidik untuk berorganisasi dan menggiatkan budaya literasi bukan sekadar keunggulan Indeks Prestasi. Sudah saatnya bangsa ini membutuhkan guru yang mampu menghasilkan empati, kepedulian dan tanggung jawab sosial. Sehingga mampu membangkitkan kesadaran dan progrsifitas peserta didik untuk pemberdayaan dalam segala hal.

Read more

Sunday, December 6, 2015

MENJAWAB TANTANGAN DAKWAH

Waktu terus bergulir secara linier dengan diiringi perubahan dan perkembangan peradaban manusia. Salah satu wujud perubahan itu adalah pesatnya perkembangan sains dan teknologi, serta seni dan budaya, yang secara langsung atau tidak mempengaruhi pola hidup dan kehidupan umat manusia.
Kini, dunia tengah masuk ke dalam era global. Persoalan hidup manusia di dunia ini menjadi kesatuan global. Permasalahan suatu bangsa akan menjadi permasalahan bagi bangsa lainnya. Indonesia sebagai bagian dari bangsa-bangsa dunia menjadi salah satu pemain dalam percaturan hidup di era global. Untuk itu bangsa Indonesia khususnya umat islam, harus mempersiapkan diri untuk memasui era tersebut untuk menyongsong Indonesia baru dan keluar dari krisis. Islam sebagai agama rahmatan lil alamin melalui umatnya diharapkan mampu memberikan kemungkinan jawaban penyelesaian terhadap persoalan-persoalan hidup kini dan masa depan (pembangunan); tentunya dengan bahasa agama, baik yang berkaitan dengan masalah pembangunan,pembelajaran,dan pembaharuan  maupun dampak dari semua  itu sendiri. Disamping itu, islam juga dapat menjadi motivasi penggerak utama pembangunan.serta membenahi pembelajaran sebagai bentuk belajar  umat,dan pembaharuan sebagai penggerak suatu masa.
Untuk mewujudkan harapan tersebut, dakwah sebagai corong harus direncanakan dan dikelola secara profesional. Dengan dakwah, da’i berusaha mengidentifikasi masalah yang dihadapi umat islam, lalu menganalisisnya dan menginterpretasikan ajaran islam secara cermat dan tepat seiring dengan masalah yang dihadapi dan kaitannya dengan perkembangan ilmu, teknologi, serta seni dan budaya untuk membantu masyarakat mengatasi masalahnya. Pada gilirannya, hasilnya diapikasikan dalam kehidupan. Itu semua sangat tergantung pada kualitas da’i dan pengelolaan dakwah sebagai salah satu kunci perubahan sosial.dan mengatarkan islam secra cermat dan keseluruhan mempelajarinya  dengan landasan qur’an, sunnah,qiyas, dan ijma’.dah yang harus lebih di ingat oleh seorang pendakwah (da’i), adalah kualitas dai tersebut dalam berperan  dalam dunia dakwah tulisan,kalam, dan tindakan .sehingga orang pun bisa kita pengaruhi ,asal kita bisa merubah diri kita menjadi insan yang benar-benar muttaqin,menyadadarkan diri sesungguhnya tanpa ada keterpaksaan .baik itu hukum,pahala,dan keuntungan .semua yang bisa kita lakukan harus mencapai garis titik perjuangan kita atau puncak kemampuan kita ,dan sampai mencapai jenjang derajat yang muhlisin dan berbudi pekerti ala akhlaqul karimah.
Dakwah sebagai bagian dari  sistem agama islam yang berfungsi sebagai sarana menyebarkan ajaran islam ,dapat dilihat dari dua pandangan, yakni; mikro dan makro .secara mikro,dakwah dipahami sebagai kegiatan yang menyampaikan ajaran islam kepada umat manusia baik dengan khotbah ,pengajian, dan sejenis nya ,yang bersifat rutin paada waktu dan tempat tertentu. Pemahaman ini berakibat pada peran dan fungsi dakwah menjadi sempit dan terbatas dimasjid dan tempat-tempat pengajian saja ,di luar itu ,dianggap bukan tugas dakwah .akibat lebih lanjut  ,dakwah wah hanya dapat menyentuh persoalan luar dari kehidupan umat manusia dan tidak menyentuh inti persoalan nya ,lebih –lebih memberikan jalan alternatif untuk keluar.
Secara makro,dakwah pada hakikat nya upaya pembebasan umat manusia secara fundamental hanya untuk mengabdi kepada allah dan rasurullah.pewujudan dari pemahaman ini maka dakwah merupakan aktualisasi teologis(iman) yang dimanifestasikan dalam sistem kegiatan dalam bidang sosial kemasyarakatan yang dilaksanakan secara teratur untuk mempengaruhi cara merasa,berfikir,dan bertindak pada dataran kenyataan individual dan soosio kultural dalam rangka mewujudkan ajaran islam pada semua segi kehidupan (Amrullah,1985;2)
Pada masa reformasi ini ,dakwah mengarah pada dua dataran penting ;pertama,memberi motivasi pada masyarakat (jamaa’ah) agar mereka menyadari situasi perubahan yang sedang berlangsung .sehingga terlibat secara positif dan memeberi warnah serta arah (islam)  bagi dinamika perubahan sosialyang sedang berlangsung .dengan demikian ,perubahn yang terjadi tidak kehilangan makna dan arah.dakwah merupakan usaha membangu(Cominity based)(Noeng,1998;4).dalam keadaan seperti sekarang ini, dakwah seharusnya sebagai pemenang ,penyejuk iman,dan akhlak bangsa,sekaligus konstriktif.kedua dakwah bersifat respontif terhadap problem masyarakat ,sehingga dakwah dapat berfungsi sebagai kontrol individu dan sosial.
Ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan lambang modernisasi yang dilakukan oleh manusia keduanya merupakan hasil pemahaman manusia terhadap hukum alam dan sosial yang berkaitan dengan benda –benda alam .dan yang berhubungan dengan sosial disebut bilmu spesial (Hatta ,19 64;)  
Kaitannya dengan proses perubahan maka ilmu pengetahuan dan teknologi inilah yang merupakan motor penggerak (tergantung pada manusia yang memanfaatkannya ) ; jika digunakan sesuai dengan fitrah manusia akan membawa kebaikan baginya (QS.al-mujadalah):

‘’Allah meninggikkan  derajat orang-orang yang beriman dan berilmu pengetahuan diantar kalian dengan beberapa derajat’’
Read more

Saturday, October 10, 2015

dunia dakwah

berdakwah adalah kreatifitas yang dimiliki semua orang
Read more