Showing posts with label mambaus sholihin. Show all posts
Showing posts with label mambaus sholihin. Show all posts

Wednesday, September 26, 2018

Santri Aku Padamu


Pada wajah teduh sang kyai
Tanpa pamrih pun ia beri pada santri
Meneguk lautan ilmu menghampiri
Menepis lara buta akal nurani
Tertuntun pada jalan sunyi tholabul ilmi
Tanpa ambisi berlebih

Santri aku padamu..

Tancapan kening malam yang dibangunkan
Tinjakan nafsu berlipat menembus setetes air wudhu dibiaskan
Terpaan kenyataan begitu berwarna kerahmatan disaksikan

Santri aku padamu

Melampau terjang mendalam kitab kuning menghiasi
Berangkat serentak jalan mushollah berjubah putih
Berhempaskan kata "jamaah" di ilhami 
Lantunan ayat-ayat, syair-syair di dengungkan lestari 
Sungguh tiada nikmat dan  syukur selain menjadi santri
Read more

Wednesday, September 19, 2018

Seperti Lapar Harus Kenyang, Begitu Juga Rindu Harus Terbayar.


Siang menjelang adzan duhur berkumandang, suara bel berbunyi tanda persiapan sholat jama'ah duhur bagi mahasiswa di asrama pojok belakang kanan pondok. Juki seperti biasanya sangat rapi oleh dirinya bersiap-siap turun menuju aula asrama di lantai dasar asrama mahasiswa. Rutinitasnya kuliah nya pun hampir selesai, yang telah berstatus mahasiswa semester akhir.

Tak seperti mahasiswa umumnya di pondok yang telah banyak berkarir profesi dan mengabdikan diri di halaman pesantren. Yang telah memang sudah banyak yang telah bahagia dalam penuntasan tugas akhir kuliahnya.

Berbeda dengan juki yang masih mempunyai tanggunan prasyarat menuju wisuda. Hafalan surat yang setiap tesnya bayar 10 ribu per surat. Karena seringkali hafalan tak kunjung selesai di kampus akhirnya ustadz penerima setoran pun menanggunginya di rumahnya. Dengan memberikan peluang pada juki dalam jangka 3 hari menyelesaikan tugas hafalannnya. 

Siang itu Juki pergi ke kampus setelah hafal sebagian dari surat. Untuk kembali mencari informasi tentang proses wisuda. Yang berlanjut rehat di warung kopi dekat pesantren. Menyeduh kopi sebentar langsung pergi ke masjid sekaligus ziarah ke pendiri pesantren sambil menghafalkan ayat yang masih banyak belum ia hafal.

Di saat jam pulang mahasiswa dari kampus gelombang ke 2 tepat jam 16.45 ia bertemu dengan seorang dosen favoritnya di sebelah toko besar samping klinik pesantren. Dosen yang sangat tau persis apa yang dilanda oleh juki dalam permasalahan pasangan. 

"Aku tadi makan bersama anak binaan perempuan ku, dan ketika makan ia sangat ingat dan menanyakan mu" 
"Makan otak-otak bandeng ya pak?" Juki langsung menebak pada makanan dosennya.
"Iya benar sekali, itu tandanya rindu padamu" dengan tersenyum lebar pada juki.

Wawawawa......duar...

Hati juki pecah meletus balon merah kuning kelabu seperti pelangi. Ceria menemukan kebagkitan dirinya atas kegagalan memikat wanita tak pernah ia capai. sambil melamun gadis itu seraya di pantai bersamanya menikmati es degan ijo hahahahha....

Ya dengan mendapatkan salam rindu itu, ia mau tau mau harus segera tuntas atas terbelenggu hafalannya. Dan segera bertemu oleh wanita itu. Karena rindu juga harus terpenuhi oleh suatu pertemuan. Karena rindu juga perlu bagi seorang yang pilu oleh hingar bingar pesona wanita setiap pergi ke warung kopi.
Read more

Tuesday, September 18, 2018

Kisah Santri Rantau Bertemu Bintang Kesarjanaannya


Sebagai santri yang ada di seberang pulau daratan antara gresik dan madura. Aku merantau tak jauh dari pulau itu, pulau Bawean kabupaten Gresik. Perjalanan rantau ini pun dirasakan oleh teman ku sebrang lautan perak Surabaya. Dia berasal dari pulau Kalimantan, dengan sebutan Borneo ciri khasnya. Mempunyai kesamaan status santri rantau sama sepertiku.  yang sekarang menjalani proses akhir study di pesantren. Dan dia baru pindah kamar ke kamarku di lantai paling atas pojok kanan asrama Mahasiswa. 

Setelah ia usai menjadi Rois ketua Asrama di asrama santri Tsanawiyah. Mulai kesehariannya bersamaku, ngaji, ngopi dan sering ia membuat kata bijak, tatkala musibah atas mengejar sarjananya terhambat sulit untuk mencapainya. Namun ia selalu banyak kata dan harapan ketika hari malam tiba, dan mengajak ku melihat bintang-bintang dan syahdu ditemani kopi dan rokok. Berkat bersamanya, aku ingin terus tertawa dan membuka gigi terus. Meski terkadang itu kasar atau tak menyehatkan akal. Sangatlah wajara bagiku untuk mudah tertawa dan menghilangkan keseriusan yang membabi buta. Heheheheh

Sekalipun pada akhir moment menjadi mahasiswa akhir yang tak kunjung selesai tanggungan atas syarat wisuda yang sudah mendekati hari H. Ia terus menyemangatiku dan memgingatku tentang tanggungan itu. Ia tanggungan baca kitab, kalau aku hafalan surat al Kahfi. 

"Ayo setoran iz, kita hanya punya waktu 3 hari 2 malam" teriaknya padaku, disela aku duduk manis dikamar.
"Iya kin, bintang pun semakin terang, tanda ada harapan bersinar pada kita" balasku langsung padanya. 

Ia membuat strategi baru untuk lulus baca kitab dengan membawa kumpulan kitab nahwu shorof setiap ngopi. Targetnya paham dan menguasai i'rob dan seluk beluk kalimat di kitab kuning. Sedangkan aku cukup pergi ke maqbarah perintis pondok pesantren yang ada di belakang kampus. Disertai target hafalan sehari satu wajah di Al-Qur'an.  

"Iz kamu gimana hafalan surat al kahfinya?" Tanya makin kepadaku.
"Aku beralih pada surat dukhon kin, waktu pendek cocok buat surat ini. Lanjut aku pada nya.

3 hari itu pun jatuh pada hari senin, sehari sebelum yudisium dimulai. Makin dan aku pada malammya memburu target yang direncanakan. Karena hari senin sudah tuntas dan lulus menuju panggung wisuda. Dengan bergerilya dari warung ke warung kami menghabiskan waktu untuk target itu. Makin hafalan rumus, aku mendengarkan tartilan surat dukhon ditambahi mata melihat dan mulut membaca surat itu sampai hafal. Dan bisa disetorkan ke rumah ustadz yang diberi tugas dalam masalah ini. 

"Iz malam ini bintang semakin banyak dan beriringan saling jatuh cinta berdampingan" ia berujar padaku sebwlum berangkat ke rumah ustadz pondok, yang rumahnya ada didalam pondok.
"Ini adalah bertanda kebersamaan dalam satu perjuangan bersama kawan-kawan akan segera terasa kepada kita untuk merayakannya" jawabku padanya

Akhirnya malam itu malam penentuan bagi ku dan ia. Dan keajaiban pada bintang itu terasa nyata tatkala makin dinyatakan lulus pada malam itu. Dan aku besoknya dengan setoran hafalan yamg kurang pun tercapai membuka pintu gerbang wisuda. Teriak histeris pada malam itu dirayakan pada makin dan temannya cak man, fathur, dan shobah. Begitu ceria ia malam itu didepan ku, sehingga aura positif bagiku menjemput pagi itu semakin membara. Dan aku pun merayakannya. Dengan langsung mendaftarkan diri untuk wisuda. Dan kami pun esoknya berpose  bersama di tengah lautan manusia berpesta yudisium perayaan sarjananya.

Karena memang kesarjanaan pada wisuda adalah suatu kemewahan bagi kita bersama teman-teman seperjuangan, dan senasib. Dan sangat ditunggu oleh kedua orang tua yang mengadu nasib untuk anakanya di desa. Cuma nasibku dan makin hanya ada 6/7 anak. Tidak sampai berpuluh-puluhan sampai beratus-ratus jiwa manusia. Disamping juga aku dan ia sangat jauh dari rumah. Tidak seperti teman biasanya hanya berakses daratan yang mudah dijangkau dan pulang.
 "Santri rantau harus pantang terjang meski badai datang" status makin di whats up nya yang membangunkan aku dari lamunan perempuan yang datang dan pergi tak tepat waktu untuk melihat bintang-bintang lagi. 
Read more

Wednesday, September 12, 2018

Ketika Wisuda Menjadi Tolak Ukur Cinta


Kerinduan padanya bersemayam pada waktu subuh ditemani bintang-bintang, suara ayam berkokok, mobil angkutan umum mulai operasi, semangat pun mengampiri. Lekas saja sofyan mengambil wudhu' untuk sholat subuh. Pagi adalah suatu efektivitas pekerjaan pada umumnya. Serta tak ketinggalan bagi sofyan menucapkan semangat pagi untuk kekasihnya Ayla. 

"Semangat pagi Ayla, jangan lupa dua Rokaat dulu" pesan terkirim centang dua melalui pesan whats up Layla.

Sofyan pun meletakkan kembali hpnya di selipan baju kotaknya di pesantren. Dan melanjutkan kegiatan menghafalkan surat juz 30 sebagai syarat wisudanya. Sebagai mahasiswa yang ada di pesantren sofyan sangat berhati-hati dalam hubungan asmaranya . Makanya dia baru buka hp lagi selesai ngaji pagi.

"Alhamdulillah sudah semuanya mas, mas jangan lupa hafalannya semangat wisuda" ditambahi emoji senyum manis kemerahan. 

"Iya dik, mas ini masih nyicil hafalan ke Ustadz mas" balas sofyan pasca ngaji, langsung buka pesan orang yang selalu dihatinya. 

Sofyan masih terbelit utang hafalan pada syarat wisuda yang dekat bulan ini digelar. Kalau utang uang enak saja bisa nyari utangan lagi bayar lagi pikirnya Sofyan sambil mengulang-ulang lafadz Al-Qur'an yang dihafalkan. 

Tidak seperti umumnya tahfid yang lihay dan cepat menghafal beberapa ayat dan surat dalam Al-Qur'an. Sofyan agak sukar dalam masalah hafal menghafal. Karena kesehariannya membaca menjadinya mudah berfikir dan menganalisa. Karena tokoh idamannya adalah imam Ghozali menjadi seorang filsuf sufi. Kalaupun hafal dari beberapa dalil, sofyan tetap saja tenang tak ambisi membicarakannya pada teman-teman kala diskusi, ngopi, ataupun belajar bersama. Lebih kepada akal dulu baru Wahyu, slogan Sofyan dalam berbicara atau pun memecahkan problematika yang dibicarakan bersama teman-temannya.

"Gimana sudah hafal berapa surat?jangan lupan makan, biar staminanya terjaga mas" balasan  layla melanjutkan percakapan di hp sebagai bentuk perhatian pada Sofyan

"Iya Dik, ini baru 2 ayat aku hafal, bismillah " papar sofyan kepada Layla

Hafalan yang diberi jangka waktu 2 minggu kerap sangat jauh kemungkinan sofyan hafal. Disamping pikiran pada skripsi yang belum dimunaqosahkan juga membuat sofyan mati kutu ambisi menghafalkannya. Maka sofyan beralih fokus pada penyelesaian skripsinya.

Hubungan chat bersama layla pun agak renggang, lantaran sofyan banyak jam penelitian. Satu dua hari tak saling kabar, akhirnya sofyan mengirim pesan pada layla. Setalah melihat status layla di wahts upnya yang lagi ngajar. " Siang dik, gimana ngajarnya?" Layla telah berstatus menjadi Guru Formal sekolah Madrasah Ibtidaiyah di kampungnya. " Alhamdulillah seru bersama anak sekolah, smean gimana kelanjutan skripsi dan hafalannya?" Layal berbalik tanya pada sofyan. Saat itu kondisi sofyan diambang piluh nan susah. Setelah muanqosah belum juga dipastikan, pendaftaran skripsi pun sudah tutup.

"Iya ini proses Dik, doakan lancar semuanya ya" siasat Sofyan agar layla tenang dan mendoakan terbaik buat sofyan.

Beberapa hari kemudian info daftar munaqosah dicantumkan. Sayang nama sofyan tak muncul, lantaran sofyan masih belum menyelesaikan syarat perbaikan nilainya. Dan juga labbaiknya pun belum lulus. Setelah mendapatkan informasi dari teman-teman untuk konsultasi kepada dekan fakultas. Sofyan pun berkonsultasi kepada bapak fakultasnya. Namun sama saja belum bisa meringankan sofyan untuk wisuda, beliau memastikan Sofyan wisuda tahun depan karena masih terbelit syarat-syarat yang Sofyan belum tuntas. Disamping itu teman lama pondok sofyan yang kenal Layla pun memberitahukan masalah dan status Sofyan. 

Tut,tut,tut.....bunyi hp sofyan bergetar kencan disaku celananya. Yang saat itu sofyan bepergian ke warung kopi untuk menyeduh kopi untuk sesuatu yang diterimanya.

"Gimana kamu pasti wisuda apa enggak?" Tanya layla. Secara langsung membuat pikiran sofyan semakin rumit oleh hubungan bersama orang yang dicintainya.
"Iya ini proses dim, aku sudah usaha, dan kenyataan tak berpihak padaku" sofyan langsung saja berterus terang pada layla.

"Kamu gak jadi wisuda?"
"Kayaknya sulit untuk tahun ini dik"

Seketika itu tak ada balasan lagi dari layla. Tentun layla sangat ingin Sofyan wisuda agar nanti bisa saling melengkapi dalam suatu hubungan selanjutnya. Karena layla telah berstatus guru, layla pun malu kalau calon imamnya itu tak mempunyai gelar kesarjanaan. Layla pun memastikan pada temannya Sofyan apa benar Sofyan tak wisuda pada tahun ini. Temannya yang ingin sekali mendapatkan Layla pun mengabari Sofyan gagal wisuda. Dan diam-diam pun temannya menjalani hubungan intens tanpa status. 

Dan sofyan terus berkomunikasi kepada Layla, namun tak seperti biasanya. Balasannya singkat dan terkesan cuek, slow respons.

"Gimana dik, aku bisa melamarmu tanpa ada gelar kesarjanaan yang aku sanding?" Tawaran sofyan kepada layla.

Lama tak membalas....

Tut,tut,tut.....nelpon bergetar, sofyan melihat layar hp pemberitahuan pesan masuk dari Layla yang begitu panjang sampai meyesakkan hati sofyan.
"Sebelumnya aku minta maaf Mas, kamu memang suka sama aku, tapi aku tidak bisa menerima mas tanoa ada gelar yang menyertai mas, dan sekarang aku sudah menemukan sosok yang aku pilih dan idamkan. Bagiku ini adalah pilihan terbaikku. Yang membuat aku semakin maju dan ideal. Jadi layla tak bisa menerima mas. Carilah yang lain saja mas, yang menghargai perasaan mas. Mulai sekarang kita berteman saja mas lebih baik itu."

Dan hubungan percintaan Sofyan pun usai begitu saja, betapa sakitnya hati sofyan, ditambah lagi wisuda yang kian gagal,  cintanya kandas di tengah jalan. Seakan pintu kebahagiaan ditutup untuk sofyan. layla pun memilih teman sofyan yang sudah pasti wisuda dan bisa membuat layla bangga. 
Read more

Wisudanya Dipending Dulu


"Kenapa lama kau kuliah nak?"
"Aku belum lulus pak" balasan anak pada bapaknya di seberang suara telpon itu.
Dalam dunia normal seorang Mahasiswa dalam berjuang memperoleh gelar kesarjanaannya dialami dalam jangkah 4 tahun. Dengan beberapa media pembelajaran dan pengalaman di kampus atau luar kampus. Semakin dalam teori dan ilmu pengetahuan dirasakan di bangku perkuliahan sebagaimana dikenal sekolah tinggi. Yang memang tidak semua orang bisa kuliah. Membiayai saja harus berani modal dan resiko seperti yang dialami oleh Fathur. 

Siang menjelang sore, mahasiswa mulai sepi dari kampus, tinggal seorang fathur yang sendiri ditemani kertas tebal berisi skripsi yang terbungkus map kuning kecerahan. Hehehe...tapi tak cerah akan dijalaninya karena tak dapat solusi reaktif dari dekan fakultasnya untuk memberi kemudahan dalam proses menjadi sarjana muda. Belum lagi resahnya yang dialaminya dari orang tua yang sangat mendambakan dia wisuda. Perayaan paling megah dan sanagat istimewa kini hampir jauh dari harapan. Tipis menggapai, tumpul pada pikiran yang bingung mau jadi apa setelah wisudanya tertunda.

"Kamu mau jadi apa nak, tanpa title?" Lanjut percakapan Fathur kepada bapaknya.
"Aku mau jadi petani, guru atas petani dan mengorganisir petani saja pak" balas fathur
" La kamu gak kaya-kaya, mana bisa banyak uang jadi petani?"
"Bertani saja dulu pak, akan banyak kebudayaan yang aku ambil dari dunia tani. Khususnya leluhur Bangsa ini. ," fathur terus menyakinkan orang tuanya untuk sabar menerima kenyataan dan terus dengan jalannya menjadi petani. Karena memang di lembaga dan kuliahnya hanyalah sebagian butiran debu jalanan yang dilalui oleh mahasiswa sepertinya. Dan fathur yakin dengan apa yang telah diputuskan oleh kampus menjadi kegagalan sebagai awal kesukseaan.

Untuk fathur lebih belajar menggeluti dunia kampung halamannya. Berasumsi pada agama, sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi bagi dirinya dan disekitarnya.

"Yaudah nak, terserah kamu saja, yang penting kamu sukses " kalimat akhir dari dari bapak fathur menutup percakapan kedua orang itu.
" Iya bapak, makasih banyak bapak, maafkanlah anakmu yang belum bisa bapak bahagian dan bangga" 

Sekian banyak biaya yang telah dikeluarkan oleh bapak untuk fathur belum bisa mengantarkan kejayaannya meraih gelar sarjana untuk wisuda. Mungkin wisuda belum diraihnya, namun fathur terus mencari jalan untuk perkembangan atas dirinya untuk kebahagiaan dan senyuman kebanggaan orang tuanya. Dan sebagai petani yang akan dijalani dalam merintis pondok tani di tanah sebrang sana bisa membuahkan pencapaian akan dirinya yang selalu diremehkan dan dijauhi oleh teman sebayanya yang wisuda mendapat gelar sarjana.
Read more

Sunday, September 9, 2018

Kriteria Status Mahasiswa Semester Akhir Berdasarkan Pakaiannya Ke Kampus

        
     
         Siang hari adalah momen yang sangat krusial sekaligus awal perjuangan bagi mahasiswa tingkat akhir semester. Yang memang malamnya terlarut pada tugas akhir atau juga kekal dalam luapan emosi terbaring kan badan pada lantai sajadah. Terpikirkan revisi berkali-kali atau juga hafalan yang tumpul menghiasi dinding setoran lembaran syarat wisuda. 

        Oke guys, bersama teman-teman yang berstatus mahasiswa akhir tingkat final, karena ini sudah dekat dengan Wisuda pada dwi Minggu ke depan. Inilah macam-macam corak pakaian berdasarkan status sekaligus tingkatan mahasiswa akhir di kampus.

1. Kemeja putih, celana hitam ,berdasi, bersepatu fantovel ala gaya Bos meski belum dipanggil Bos, minimal sudah jadi Bos SPP kampus jika ditotal lumayan bisa buat cicil rumah untuk calon istri hehehhe... Adalah mahasiswa yang menjalani proses pembuktian alamiahnya pada karya tulisan baca : skripsi. Artinya ia adalah sedang bangga dengan pencapaian pada pembuatan skripsinya. Karena memang sangat tidak mudah bisa mencapai taraf itu dengan beberapa tahapan yang sangat menghargai pada kesabaran dan keuletan. (Mahasiswa Sukses calon Idaman mahasiswi)

2. Kemeja kotak-kotak ala pak Jokowi, gaya mahasiswa akhir pada pembaruan yang dipakainya. Atau juga tidak pada kemejanya, melainkan pada aksesoris pada kemejanya yang baru beli. (Mahasiswa kaya, calon idaman penjahat wanita malam) hahahah..

3. Kemeja polos, menandakan kewibawaan pada umumnya. Atau juga kesederhanaan yang dimilikinya. Artinya dia telah selesai pada tugas akhir. Menunggu wanita yang pas, sambil celengi buat Nikah hehehe.... 

4. Kemeja putih garis-garis , kemeja yang biasanya merek Cardinal, Lea, La Russo, benhil dll. Ala barang jajakan mall biasanya dipakainya. Ini biasanya kemapanan yang telah dicapainya. Di samping selesai pada tugas akhirnya, juga ada sosok pasangan yang dinantinya di kampus. (Mahasiswa siap iringan dan pelaminan.)

5. Batik, nasionalis, cinta budaya Indonesia, dipakai pada mahasiswa tingkat akhir untuk meminta TTD dalam pengesahan dan persetujuan untuk tugas akhir yang mumpuni. Ya kan memang terkesan bagus dan sangat identik dengan keselarasan dan kebanggaan. Jadi dosen enak bangga punya mahasiswanya begitu sebaliknya. (Mahasiswa tepat dosen)

6. Kemeja garis-garis biasanya dipakai mahasiswa yang telah berstatus ustadz atau guru dengan seragam kesehariannya mengajar di gunakan di kampus juga. Telah menjalani sebagian administrasi kampus. Menunggu kiriman saja untuk cicil Hp baru. Maklum banyak tugas, dan jangkauan luas untuk mencerdaskan bangsa membutuhkan barang yang lebih lengkap fiturnya. (Mahasiswa calon Guru) 

             Mungkin itulah pembagian yang aku tulis berdasarkan kebiasaan di kampus dalam detik-detik kadaluwarsa menjadi mahasiswa hehehhe..

Read more

Wednesday, August 22, 2018

Korban Perasaan Mana Lagi Yang Diminta?


     Terlalu dini menceritakan perasaan seorangpun bagiku, yang sama sekali belum merasa mencicipi itu rasa yang dalam oleh seseorang. Apalagi  tentang ceritaku ini yang berkisah  cinta seorang  laki-laki biasa yang mencintai wanita yang sangat istimewa dihatinya. Sayangnya si lelaki itu ditinggalkan tanpa alasan yang jelas dari wanita itu, dan lelaki itu pun sudah mengerti sebelumnya. Yang kian hari telah mencedari perasaannya. Usut punya usut ternyata ada seorang diam-diam memetuk hatinya. Dia adalah teman sendiri yang pernah ia kenalkan pada saat membantu lelaki menemui wanita pujaannya. 
      Dengan kemewahan dan keparipurnaan akademisnya yang mampu memikat hati wanita itu. Karena memang wanita itu adalah seorang akademisi yang handal telah diakui banyak orang, sedangkan si lelaki hanyalah orang biasa, yang hobinya ngopi dan nyangkruk bersama teman-temannya. Tentu si wanita tak ingin memilih lelaki itu. Dan langsung berputar 360 derajat dari harapan lelaki itu, terharu memang yang dirasakan lelaki itu, lelaki itu sangat akrab dan relatif baik banget dengan teman yang ia kenalkan kepada wanita itu. 
   Dan akhir pada perasaan lelaki itu pupus ketika dia masih belum rampung akademisnya. Terbelit tanggungan yang disertainya. Karena memang kondisinya adalah sama-sama semester akhir. Si lelaki telah merencanakan wanita untuk menjadi pendampingnya kala ia lulus nyaris tak terkira kenyataannya. Si wanita menjauh dan langsung bicara terus terang bahwa dia sudah ada orang yang ia cintai. Si lelaki tetap tersenyum dengan menyatakan kepada teman-teman nya  "tak pantas hati bersedih, kalau wajah masih bisa tersenyum" hehehheeh seperti biasanya si lelaki ngopi bersama teman-temannya.
    Di warung yang hanya berdurasi beberapa menit ada teman si lelaki menghampiri dia, pada saat itu temannya meminta rokok pada penjaga warung itu, sambil dia mengajukan pertanyaan kepada sang lelaki itu 
"Lho bro bukankah orang itu yang selalu kau ceritakan padaku dan teman-teman?" Tanya dia
"Iya, emang kenapa?" 
"Kok sekarang jadi jarang kau cerita,dan aku melihat bersama teman kita"
"Iya memang seperti itu aku, aku menikmati kebusukannya saja dari sini, kalau teman sudah bahagia bersamanya. Ya sudah hehehehhe" jawab si lelaki itu dengan senyum khasnya, sambil menyeruput kopinya
"Wah.....memang kadang seperti itu ya Bro, terlalu alim didepan, brengsek dari belakang hahah" lanjut temannya
           Mengutip kalimat dari cak tejo Sujiwo Tejo "Kalau dengan jancok aku tak bisa mencintaimu, maka dengan air mata lagi aku mengetuk pintu hatimu" hahahhaha...
Terkadang berbagai pengorbanan yang ada dalam diri seorang untuk seorang yang dicintainya berakhir menjadi korban yang menusuknya secara pelan-pelan. Tak nampak, namun terasa. Hahahhaa
    Sudahlah.... Mungkin itulah jalan kebahagiaan yang dibuat oleh seorang wanita atas  lelaki tersebut, kiranya ada pelajaran yang tersirat dalam perjalanan asmara lelaki itu memberitahukan arti keikhlasan pada sebuah perasaan yang menyertaniya. 
    Maka korban mana lagi yang dirasakannya?
Wallahu A'lam
Gresik, 1.35. 23-08-2018
Si lelaki itu pulang sejenak dari pondok, sambil menghibur diri melihat foto-foto wanita yang meninggalkannya heheheh


Read more

Tuesday, August 21, 2018

Hari Raya Itu


     Seorang petani  yang menanam alamnya dengan tumbuh subur merasakan indahnya alam, merayakan diri pada nikmat tuhan yang diberikan. Menentang rasa kerakusan, keangkuhan, dan kesemena-menahan
     Seorang pedagang banyak pelanggan bermesra ria kepada persatuan membangunkan
     Seorang guru yang merayakan ilmu pelajaran bersama muridnya yang tak kunjung lelah mendoakannya.
     Seorang pegawai negeri yang bermunculan kebanggaan, bukan keresahan
      Seorang pengurus pondok membuang wajah amarah berjatuhan pada tangisan anak didiknya
      Seorang santri yang menahan tangis dari kejauhan rumahnya
Tidak untuk sama, tapi berjalan bersama-bersama
Gresik, 21-08-2018
Read more

Kemenangan Indonesia Bukan Segalanya


    Kemenangan Indonesia 3-1 atas hongkong di laga asia game membuat kebanggan bagi rakyat indonesia. Tak terkecuali aku bersama teman-teman semester akhir juga merasakan kegembiraan atas kemenangan indonesia. Berangkat dari asrama  menonton dengan satu motor yang ditumpangi orang bertiga hahhahah...atau bisa dengan umbal istilah jawanya, asal ada akses kendaraan yang mampu menghantar ke tempat tontonan. Suasana ramai dan khusuk berharap Indonesia menjadi yang terbaik dan lolos ke 16 besar. 
      Disisi lain ada sebagian besar umat Islam yang menunaikan ibadah Haji dan ada juga yang berpuasa 2 hari sebelum hari raya Idul Adha datang, puasa tarwiyah, dilanjutkan besok puasa arofah. Kepuasan dalam diri adalah ibarat berbukanya orang berpuasa atau dengan Indonesia menang hehehheh...
       Oleh karena itu, mencari kepuasan tidaklah terbelit oleh hal yang muskil pada waktu. Segala fenomena yang menimpa tidak terlepas oleh waktu yang mengisinya. Begitu pun di pesantren dengan variasi multi kegiatan yang kian banyak, seakan waktu antara siang dan malam begitu cepat. Lain lagi dengan pengurus seperti aku yang statsusnya semester akhir, ada sedikit kerenggangan waktu untuk merayakan diri atas waktu begitu mudah. Seperti menonton bareng Laga Indonesia Vs Hongkong.
          Itupun tak lepas dari kajian pesantren yang mengajarkan pada suatu aktivitas bersama-sama pantang surut membangun bersama-bersama yang berpuncak pada integritas nilai islam pada diri masing-masing. Mungkin gol adalah capaian status dari pada santri yang telah mempunyai identitas diri, atau terangkat derajat statusnya di dunia. Mempunyai gelar, menjadi seorang yang mempunyai banyak aktivitasnya, dan tinggi status kesantriannya denga sandingannya mengabdi. 
     Dengan demikian kemenangan Indonesia bisa menjadi kebahagiaan santri dengan bangga oleh dirinya yang terus memburu kemenangan layaknya indonesia membangun kemenangan di asia game. Amin... Cuma ini bukan pesta bagi seorang mahasiswa akhir yang terbelit beban tanggungan perbaikan nilai dan hafalan surat pilihan dari Al-Qur'an.hehuheuhuhuheu

Read more

Sunday, August 19, 2018

Tidur Panjang atas Penjara Kenangan


          Semua orang tak terlepas dengan kenangan hidupnya, baik itu baik ataupun buruk, bahagia ataupun sedih, semua dirasakan jadi satu kesatuan dalam diri seorang. Ada yang memperbaiki dan ditinggalkan untuk sebagai pelajaran yang berharga. Kebersamaan bersama keluarga, saudara, kerabat, dan teman-teman pasti mempunyai kenangan yang menyertainya. Apalagi dalam urusan hubungan percintaan adalah hal yang sangat fundamental kata teman Hamdan GU julukannya, karena dengan kegirasannya pada sebuah gerakannya. 
          Berbagai macam dalam mengahadapi sebuah kenangan tergantung oleh pribadi masing-masing ada yang bepergian jalan-jalan, ada yang menyendiri di sudut kamar, ada yang bercurhat untuk solusi yang ditemukan. Sedangkan aku memilih tidur untuk suatu kenangan percintaan  yang selalu terpikirkan, tidur pada hari ini adalah tidur panjang untuk menuntaskan diri pada kebodohan oleh cinta hahhahah tidur mulai pagi sampai sore tiba, mandi dan berserah pada sandaran sajadah yang rindu oleh sang maha kuasa. Meminta yang terbaik untuk hambanya. Meskipun perlahan kegiatan di pondok tertinggal, kewajiban bagi diri sendiri jangan sampai tertinggal. Lanjut pada malam panjang dengan mencari suasana segar di sebuah tempat, memesan kopi dan air mineral sebagai persiapan energi untuk berani gerakkan badan. 
          Oleh karena itu, aku merasa terpenjara oleh suatu kenangan yang begitu aku sayangkan dan rela melepaskan. Namun inilah kenyataan yang ada, semua tetap terima selagi bisa "nyaman" dengan apa yang dirasa hehehhehehe.... Mungkin tidur adalah kepergian untuk seorang yang dirindukan bukan untuknya. Berbahagialah diri dengan segala apa yang dirasakan, karena bahagia tak mampu mengukur nikmat yang maha kuasa. Dengan terbebasnya atas kenangan kiranya perlu tidur panjang adalah solusi efektif dilaksanakan coba saja hehehuehuhe..
Read more

Melupakan Untuk Terkenang Kembali

         
          Sejak aku lepas kontak dengan sang pujaan, aku sangat beruntung dan berasa sangat tercerahkan hahahah....banyak jalan kebahagiaan atas ku menghampiri, termasuk untuk kedua orang tuaku, teman-teman ku, dan guru-guru ku. Dan setiap hari aku harus membuat rencana ulang atas target yang ingin dicapai. Melepaskan seorang yang tidak cinta dengan aku adalah suatu yang mulia untuk mementaskan diri untuk menantikan seorang yang patutu diperjuangkan. Saat itu perasaan bercampur semua pada diriku, gundah, jengkel, dan sedikit bahagia pun terasa. Adikku dengan keberaniannya menemuiku di kamar dengan kondisi yang kurang membaik dan loyo. Ku tanyai tetap saja diam. Meski sudah ku belikan nasi karena tak kebagian jatah makan siang di pondok. Ini juga melatih kesabaran seorang kakak atau abang dalam menjadi panutan bagi adiknya. Serta menahan segala emosi jiwa pada adik. Sehingga adikku mulai menceritakan apa yang ia sesalkan. 
          Pada kesimpulannya belum bisa dengan kenyamanan pada pengurusnya. Benar kata sahabatku Makin, kalau pengurus anak MTS kelas 1 yang berlagak adalah pengurusnya, kalau MTS kelas 2 dan 3 adalah anaknya. 
Ini sesuai dengan perkiraan yang aku pikir sebelumnya, bahwa pembinaan suatu karakter di pesantren juga tak lepas dari bagaimana dia meberikan keluasan pada anak didiknya atau yang ia ngabdikan. Dengan status pengabdian sebagian pengurus sudah seakan mencapai kejayaannya dengan berlaku seenaknya. Emang dia siapa, bukan siapa-siapa di pondok, kita kan yang mengabdi dab berkuasa pada saat ini. 
Mulai dari masalah ras, penokohan, dan kakak wanita adalah suatu keterpihakan pada seorang pengurus dalam pengabdiannya. Memang begitu dari masa ke masa nilai kepengurusan tak terlepas dengan siasat pengabdiannya dengan seorang yang menjadi bahan nurani atau membangun persatuan dalam cinta. Hahahhahah......kalau dari unsur sara itu tidak terbelit dalam persoalan, cukup mengajak duduk santai bersama dan menjaga keharmonisan dengan saling menyapa dan saling kabar. Kalaupun tak ada seperti itu maka tiada bahan pembicaraan, karena pembahasan CINTA tak akan mati oleh seorang santri. Disamping juga hiburan dan selingan ada juga sebagai perhiasan diri dalam memantaskan diri menjadi lebih baik. Tetap nikmati saja apa yang terjadi sambil sesuruputan kopi atau air putih yang melegakan hahhahaha
          Pondokku selalu asyik dengan keaneka adekdot dalam bebagai macam variasi kegiatan. Ada yang terkejar pengurus tarbiyah (pendidikan) atau keamanan, ada yang menyiapkan pakaian putih untuk siasat subuh atau tahajjud, ada juga yang terlalu khusuk dalam sholat subuh tak kembali, malah balik dan tidur lagi hahhah, ada yang belum mandi takut terlambat sekolah, ada yang bolos pelajaran untuk mandi, ada yang belum ganti jubah jamaah yang kotor takut kena hukuman, ada yang tidu jamaah duhur bangun jamaah ashar, ada yang makan sore tak makan lagi lantaran habis diniyah malam langsung tidur. Atau tertidur tak terbangunkan di sekolah hahahah ada yang menantikan suara panggilan nama-nama tang kena takzir, ada yang belajar di Mushollah, pergi ke perpustakaan, dan kumpul2 temab sampai pagi fajar menjemputnya. Semua begitu indah dan berasa, tak akan tergantikan oleh banyaknya waktu dan tempat yang menjadikanku sejarah dan perwujudan abdi fi abdillah,abdi finnas, abdi fi ghoirihi
Read more

Tuesday, July 24, 2018

Suluh Peringatan (Refleksi NGAJI Ihya KH. Masbuhin Faqih Gresik)




Berbagai macam terpaan yang dihadapkan oleh suatu manusia dalam kehidupannya  tak terlepas oleh perasaan hati yang mengaturnya.  Pentingnya olah hati menjadi sakral dalam hidup menentukan arah dalam kejernihan rasa yang selalu rintih pada sebuah kenikmatan. Karena awal bermula pada suatu ucapan, tindakan, dan keputusan dari kalbu manusia.
Aktivitas ngaji pagi di pesantren pada hari minggu dan selasa sudah pada tahapan daya hati yang terus bisa menyinari pada ingatan manusia. Kehadiran sebuah dzikir adalah untuk manusia ingat pada pencipta. Secara keseluruhan ada kesinambungan antara nalar dan nurani. Sekuat nurani yang melekat, sedalam nalar mendalam. Sehingga ada amal yang bisa berorientasi untuk diri sendiri dan orang lain.
Bagaimanapun juga manusia perlu peringatan dalam mengingatkan dan meningkatkan stabilitas diri. Efektifitas suatu peringatan akan terasa jika hati sangat damai menerimanya tidak amarah yang menjelma. Lemah daya manusia ada untuk membangunkan akan kebutuhan pada tuhannya.
Dengan begitu peranan Dzikir dalam menghidupi jiwa mati kiranya sangat membawa keberkahan bagi yang melakukannya. Meski itu tak dilakukan dalam ikhlas dan tulus. Biarlah diri yang menilai tulus itu dengan sendirinya. Sedangkan tuhan yang menetukan arah kebahagiaan darinya.
Maka tak heran banyak orang mengistilahkan bahwa hidup adalah perjalanan. Mengutip maqolah “barang siapa yang mengenal dirinya, akan mengenal Tuhannya” berawal dari ola hati yang akan mendasari landasan pijakan hidup untuk terarah. Berbagai macam lantunan dalam dzikir adalah tanda manusia sangat mengakui kelemahannya. Dan bahwa manusia tidak cukup dinilai dari kulitnya saja. Ada kedalaman diri yang menjadi manusia itu dikenal seutuhnya melalui hati itu.
Secara fitrah manusia penuh dengan kelupaan dan kesalahan. Dengan berawal dari perjalanan pada peringatan dalam hati inilah kiranya sangat indah yang akan mencapai arti sebuah kehidupan lillahi wa linnasi  
Tingakatan pada seorang yang menempuh hidup dalam dunia berbagai macam aspek sangat mudah dikaitkan dengan adanya suatu daya ingatan. Khusunya pada pendidikan. Ini adalah pada tahapan mentalitas atau bahasanya karakter pada suatu manusia. Ini juga bisa dijadikan bekal hidup keseharian walau ada banyak godaan benda yang membabi buta pada manusia yang keras pada nuraninya. Kalau kepala keras itu wajar nurani jangan heheheheh

Read more

Monday, July 23, 2018

Nyantri (Nyandang Tresno Jalarane Ati)



Nama santri sudah menjadi familiar di tengah masyarakat komplek. Karena pesantren pada umumnya telah memenuhi kriteria dalam mengamalkan panji-paji Islam serta mampu mengembangkan efektivitasnya dalam masyarakat sebagai pengabdi atau pelayan masyarakat.  Dari beberapa aspek kehidupan  masyarakat dari kesantriannya di pesantren mulai beberapa kegiatan yang santri lakukan sebagai identitasnya.
Pesantren terlibat dalm proses penciptaan tata nilai yang memiliki dua unsur utama: yaitu peniruan dan pengekangan. Unsur pertama, yaitu peniruan, adalah usaha yang dilaksanakan terus-menerus secara sadar untuk memindahkan pola kehidupan para sahabat Nabi Saw dan para ulama salaf ke dalam praktek kehidupan di pesantren. Tercermin dalam hal berikut; ketaatan beribadah ritual secara maksimal, penerimaan atas kondisi materil yang relatif serba kurang, kesadaran kelompok yang tinggi.
            Unsur kedua, pengekangan,  memiliki perwujudan utama dalam disiplin sosial yang ketat di pesantren. Kesetiaan tunggal kepada pesantren adalah dasar pokok disipllin ini, sedangkan pengucilan yang dijatuhkan atas pembangkangnya merupakan konsekwensi mekanisme pengekangan yang dipergunakan.
            Disamping topongan moril dari seorang kyai bagi kehidupan pribadinya. Kriteria yang biasanya digunakan untuk mengukur kesetiaan seorang santri kepada pesantren adalah kesungguhanya dalam melaksanakan pola kehidupan yang tertera dalam literature fiqh dan tasawuf. Salah satu bentuk penerapan kreteria ini adalah sebuah sebutan “ahli maksiat” bagi semua santri yang melanggar dan dikucilakan.
Dengan begitu santri tak akan bisa lepas dengan sosok yang dikultuskan oleh seorang pengasuh (Kiai) yang sangat erat dengan istilah Barokah atas proses belajar dan menggali pengalaman pesantren. Pada taraf pengalaman pun santri telah banyak mencicipi problematika lautan massa dengan menjadi seorang pelopor atau sebagai regenerasi pemimpin. Dan lebih dekatnya sangat dekat dengan orang lemah. Karena dengan sebuah tata nilai kesederhanaan di pesantren yang  mampu menjadi pandangan hidup seorang santri.
Dalam beberapa aktualisasi imu beramal sholeh selalu dengan maqolah Ulama “ Wa bil khidmati Irtafau, Wa bil khurmati Intafau” bagaimana menjadi seorang bermanfaat  bagi orang lain, tak lebih. Santri telah mencapai kejayaannya yang mempunyai pandangan berkat pengalaman dari cakrawala luas dan pendalaman ngaji di Pesantren.
Secara gradual penerapan ilmu yang ada dipesantren baik itu melalui pengajaran dan perwujudan pada sang Kyai menjadi sautu intensitas yang tak pernah padam oleh sautu zaman. Dengan beberapa tantangannya tentunya pesantren tetap menjaga sautu keilmuan dan tradisi untuk tetap mampu memberi ruang gerakan pada solidaritas menggali ilmu dan khazanah pesantren. Sejalan dengan itu, maka tak heran sosok panutan adalah kebaikan yang menyerapi dalam lautan kalbu.  Dan akan menjadi kekuatan penuh atasnya dengan apa yang telah Pram katakan “ kaum terpelajar harus ikuti kata hati”  santri telah menjalaninya dan memberkatinya dengan eksistensinya di masyarakat. Maka Apapun status dan profesinya santri tetap dengan Nyantri, nyanding tresno ati

Read more

Tuesday, August 22, 2017

Faqihu Fiddin Bi Hurmati Wa Khidmati Lis Syekh (Guru)



Syukur mendalam kepada Allah yang telah memberikan nikmat islam dan iman kepada kita semua. Salam bahagia kepada rosurullah kepada nabi Muhammad yang telah membawa umatnya kedalam jalan yang terang yakni Agama islam. Semoga kelak kita semua diakui oleh umat nabi Muhammad dan mendapatkan Syafaatnya.
Faqihu fiddin,adalah  mengerti ilmu agama, mengerti ilmu yang telah diwariskan oleh Nabi Muhammad. Bertujuan untuk mendapatkan derajat taqwallah.
Derajat taqwallah tidak akan tercapai kecuali dengan memahami agama Allah, serta sesuatu yang di bawakan oleh nabi Muhammad, santri boleh belajar tentang apa saja yang ada didunia tapi jangan terlalu mencari kedudukandi dunia, tapi  menggapai keridhoannya untuk surga diakhirat kelak. Syarat untuk menggapai taqwallah santri harus menghormati dan sam'an watha'atan guru-gurunya. Bagaimana taqwallah telah diajarkan dalam kitab klasik safinah atau sullam dengan  kewajiban sholat, orang tua berkewajiban menyuruh dan memberi peringatan untuk sholat diumur 7 tahun untuk seorang muslim.
Oleh karena itu seorang santri dalam mengimpelemntasikan sam’an wa thoathannya dengan menharapkan keridhoan seorang guru dalam menuju seorang taqwallah faqihu fiddin. dalam hadits dijelaskan “Ridhollah fi ridho walidain”
Al-aba'Salasa
1.      Orang yang melahirkanmu
2.      Orang yang mengajarimu
3.      Orang yang menjadi mertuamu
Namun yang lebih dipatuhi oleh seorang santri adalah Abur Ruh (Guru) untuk bekal dakwah atau Nasrul Ilm. Dan Nasrul Ilm diukur dengan hormatnya Sam’an wa Thaathan kepada guru. Dipesantren dituntut untuk mengaji dan ngaji. Berusaha memperjuangkan agama Allah.
Taallum, Taabbud, Takholluq bil akhlaqil karimah. Selalu tadharru' kepada gusti allah. Mengajilah sepuasmu, dan Nassrul ilm yang ikhlas. kunci ilmu bermanfaat dari sam'am wa thaatan kepada guru. Jadi apapun kamu jika masih ingat gurumu, alhamdulillah
Tidak hanya berhenti di nasr ilm saja, tanpa disertakan Ngabdi akan sia-sia. Karena dikhawatirkan kebarokahan ilmu tuza'( dicabut) jika tidak ada jiwa khidmah. Untuk menciptakan dhoharat barokah film.
Meskipun statusnya sudah tak ada lagi dipondok (Alumni) tetaplah melakukan pekerjaan yang berlandasakn ke ukhrowi. Bagi seorang yang mencari ilmu diluar, Carilah jurusan umum yang mudah diarahkan ke akhirat. Dengan niat memperjuangkan agama Alah dan ukhrowi.
Maka mengambil faidah ilmu dengan khidmah, “wabil khurmati intafau, wa bil khidmati irtafau”. Karena kemanfaatan ilmu dilihat dari khidmah yang ikhlas. Teruslah menhidupkan agama Allah dimana saja santri bertempat.
"Walladzina jahadu fiina lanahdiyannahum subulana" ?? (QS. Al Ankabut: 69)

"Barangsiapa yang berjihad di jalan kami, maka sungguh akan Kami tunjukkan pada mereka jalan-jalan kami."
Berjihad di jalan Kami' yang dimaksudkan disini bukanlah jihad dalam arti sempit saja, namun pengertian 'jihad' mencakup semua kegiatan dan aktivitas seorang muslim demi menegakkan kalimatullah, menyeru kepada yang ma'ruf dan mencegah kemungkaran. Memperjuangkan agama Allah (Nasrul Ilm) . Ini jugalah yang diistilahkan sebagai dakwah. Dakwah fi sabilillah.
Ket : Tausyiah Room Kyai Masbuhin Dalam Acara Popesa 17-18
Read more

Friday, April 14, 2017

Refleksi NGAJI Ihya' Ulumiddin



Di sela-sela ngaji kyai buhin hari minggu, 09-04-2017 kemarin, beliau menyampaikan kajian hasrat kepada kaum muda khususnya, dan santri dan manusia umumnya. Bahwa “ Wong enom iku senengono golek ilmu (Ngaji), mergo lek tuo wes akeh laline lan repote.
Inilah hakikat keilmuan idealis dan realistis yang dimiliki kyai buhin. Idealis dengan keilmuannya, dan wawasan realistis dengan kewibawaannya dalam mengasuh dan menjadi sosok pengaruh di masyarakat.maka apa saja yang beliau sampaikan merupakan pedoman, pelajaran, hikmah, bagi manusia.bahkan diam beliau adalah suatu hal yang harus dicerna dan dipelajari.
Berlanjut ke Ngaji  selanjutnya hari selasa, 11-04-2017 masih dengan pembahasan ubudiyah, pembahsan beribadah kepada sang pencipta, menerapkan konsep hablu minalla secara utuh. Ini merupakan suatu proses menjalankan syariat Allah, dimulai dari dalm diri seorang manusia muslim khususnya. Dengan menciptakan kesalehan yang menjelaskan melalui membersihkan kotoran apa yang ada dibadan manusia dan sesuatu yang ada ada dibadan (anggota badan) untuk menuju tawajjuh Ilallah.
Ditengah pengajian berlangsung dengan asa sholat, keutamaan sholat dan keutuhan solat berlangsung, abah kyai buhin menuturkan kepada santri “ Apa saj profesi dan status yang dimiliki, jangan sampai meninggalkan perintah sholat” beliau memberi kemantapan penyederhanaan untuk merealisasikan dengan menganjurkan dan menekankan membawa sarung,kpyah dan siwak dalm situasi apapun agar mampu menegakkan sholat itu. Kalimat itu uterus terulang dari kyai buhin ketika ngaji, tausyiah, sambutan kepada santrinya.
Kyai buhin mengutip penjelasan lebih tentang jalan menuju Allah itu banyak diantaranya baca Al-Qur’an, dzikir, sholawat dll. Namun beliau member ketegasan dalam konsep jalan dengan dzikir yang lebih utama adalan  amalan dzikir itu haruslah mempunyai guruyang muttasil kepada Rosurullah SAW.
Ibadah sholat ini adalah merupakan ibadah setelah tauhid. Tauhid sebagai awal dalam menjadikan diri untuk berbuat kebaikan dudunia dan berbekal  untuk akhirat, hingga tauhid suatu urgenitas yang harus dimiliki kaum islam untuk membentengi banyaknya aliran dan ajaran yang menjelam dan menyebar luas di Indonesia.
Tingkatan kualitas seorang muslim pun dapat dinilai dari sholatnya. Mengingat sholat adalah tiang agama, asas kedekatan kepada Allah, memperdalam keyakinan, dan indahnya iman seorang muslim. Jika pondasi,asa, dan keindahan sholatr hilang, maka berdampak buruk akhlak seorang muslim hingga buruklah keimananya.
Apaun profesi dan statusmu, bawalah sarung,kopyah, dan siwak untuk sholatmu.
Read more

Thursday, April 6, 2017

Pengajian Kitab Ihya' Ulumiddin (Imam Ghozali) KH.Masbuhin Faqih Suci, Gresik


Suatu karya fundamental dari Imam Ghozali dengan karyanya yang banyak dikaji dan ditela’ah di berbagai penjuru dunia. Kitab ihya’ merupakan suatu pengetahuan dan kedlaman ilmu logika, etika dan estetika. Karena didalamnya banyak kajian yang  pantas dijadikan pedoman kehidupan setelah kitab Allah (Al-Qur’an).
Di tengah kerumunan ajaran dan dogma agama yang beredar dan tersebar kitab Ihya’ sangat relevan dalam pandangan hidup untuk tetap dengan apa yang dibawakan Salafuna Sholih sebagai pewaris Nabi terdahulu. Melalui media online apa saja bisa ditemukan dan bisa dipelajari khususnya yang rawan dengan lingkungan agama, suatu Urgenitas dalam mempelajari Kalam Kitab Ihya’ meski tidak pernah Ngaji, tapi bisa mendapatkan apa yang diajeni dengan mendengarkan dan menela’ah kembali Kitab Ihya’.  Kami menghadirkan pengajian Kitab Ihya’ Juz 1 yang di pelopori Kyai Masbuhin Faqih Suci, Gresik.
Langsung download pengajiannya di link dibawah...!!
Selamat mengaji..!!
Selamat mendengarkan..!!
Semoga manfaat dan mendatangkan rahmat..!! (nantikan episode selanjutnya sahabat)

1. https://www.4shared.com/mp3/TArDB0igca/2_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

2. https://www.4shared.com/mp3/4xnYJ6nOei/3_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

3. https://www.4shared.com/mp3/fBiZvlU0ca/4_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

4. https://www.4shared.com/mp3/eg43drpqca/5_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

5. https://www.4shared.com/mp3/Taao2hN8ei/6_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

6. https://www.4shared.com/mp3/Nj6oKqhica/7_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

7. https://www.4shared.com/mp3/XOq6ceI_ei/8_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

8. https://www.4shared.com/mp3/PV8dMDKyei/9_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

9. https://www.4shared.com/mp3/gcgZssGJei/9_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin_.html

10. https://www.4shared.com/mp3/ce_8PPszei/10_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

11. https://www.4shared.com/mp3/FShch9Cqei/11_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

12. https://www.4shared.com/mp3/3c5hFm-fei/12_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

13. https://www.4shared.com/mp3/NL5gI_T2ei/13_ngaji_kyai_ihya_fathul_muin.html

Read more

Friday, March 24, 2017

Kampus Take Me Out


Hari kamis 23 maret mahasiswa dikejutkan dengan baliho besar yang terpampang di papan  pengumuman berisi informasi weeding party yang menggiurkan mahasiswa ke dunia baper, apalagi kaum hawa yang bergairah melihat sambil mengelus dada seraya berkata "kapan aku seperti dia?" Gambar itu sangat mempengaruhi mahasiswa. Karena yang lagi meerid adalah srjana kampus yang sarjana (TU kampus ) dengan mahasiswa yang berstatus semester 6. Membuat  Ribuan jerit ingin sepertinya hahahah...terkesima di dunia pelaminan ternyata, gak lama akan banyak terob dan tutup buku sepertinya melihat dari kejadian itu. Menceritakan cinta jodoh bersemi dikampus, terpesona Bergegas pulang dan minta doa restu kepada orang tua .
                Yang lebih heboh lagi karena poster baliho tersebut besar menduduki area kampus, menjadi suatu perhatian lebih pada mahasiswa yang jauh sebelumnya hanyalah beberapa informasi nilai, jadwal,kreasi dan corat coret seni kreatif dari mahasiswa.               

  Ini tidak lepas dari keberadaan kampus di suatu daerah. Kampus merupakan perguruan tertinggi yang dilalui oleh kaum ilmuwan untuk menemukan dan meningkatkan ilmu yang lebih tinggi lagi ..iya seee..??sepertinya itu hanyalah bualan di warung kopi saja. Tidak menjadi realistis di kampus. Apalagi mahasiswa yang berstatus gandengan atau punya pasangan,menjadi nilai plus baginya disamping ada penyemangat dan calon pendamping yang ada. Ngenes kalau saja tidak punya ...hahahahah pinta seorang teman yang antusias melihat baliho itu dengan memikirkan perencanaan yang matang. Karena ini memang suatu keistemewaan disini. Wah.. Seorang yang mulai bingung akan kemana kuliah besok, lebih optimis kuliah lantaran ada pasangan yang mendukungnya wawaa..its amazing. Kuliah yang semestinya mencari kebijaksanaan dalam ilmu, menjadi suatu hal yang langkah, perdebatan suatu kelas menjadi pertemuan yang romantis, berpikir kritis transformatif menjadi berfikir perasaan untuk tidak saling menyakiti. Tulisan yang penuh kebimbangan jati diri berubah tulisan dari hati ke hati..             
   
Yang aslinya sekitar kampus kreatifitas keilmuan mahasiswa menjadi kreatifititas pernikahan. Memang menarik, dikala tulisan-tulisan sekitar kampus sudah basi, mahasiwa di asumsikan poster indah nan menawan.                
 Kampus tidak hanya proses belajar mengajar, duduk manis di depan dosen, mendengarkan secara khusuk kalam-kalam dosen dengan khusuk. Itu internal yang dimiliki kampus, yang hanya mampu membawa mahasiswa dalam keheningan cipta dalam berproses. Maka nilai eksternal kampus juga harus di benahi dan ditingkatkan, orang-orang yang menggoreskan sejarahnya tidak pernah menyebut nilai IPKnya berapa, lantaran apa yang telah kau tularkan kepada manusia?? Ini tak asing lagi tokoh seperti soekarno, bung hatta, cokrominoto, H.agus salim,Gus Dur dsb. Adalah orang yang mempunyai integritas tinggi dalam keilmuannya. Dengan meningkatkan diri secara step by step.               
  Oleh sebab itu kampus menjadi urgenitas dalam menciptakan mahasiswa ke dalam dunianya, secara idealnya dari bebagai fakultas yang ada. Dengan memperbanyak kajian-kajian yang sudah dilewatinya, nyatanya pun itu hanyalah lamunan seorang pujangga dengan syiirnya. Hahah..                 Semakin banyak pujangga semakin ramai kampus ini seperti yang terpampang di baliho yang terlihat indah itu. Akan ada banyak kata cie-cie, kasmaran ya?, aku gak bisa move on, dll. Mahasiswa tersihir dengan baliho tersebut dengan tambahan surat undangan yang tersebar ke sebagian besar mahasiswa . Lagu sungguh senangnya pengantin baru menjadi lagu khas di kampus. Dengan wajah yang berseri-seri. Duh kasihan nasib jomblo yang bernada revolusi harga mati, Yang tak kunjung selesai dialaminya.           

      Kampus pun tidak lepas yang namanya mahasiswa,yang berada didalamnya. Mahasiswa adalah orang berpendidikan dan bermukim di perguruan dan di sekolah tinggi. Yang selalu ada di dalam kelas-kelas yang mengarungi keilmuan dan pengetahuan agar kelak menjadi pelopor masyarakat. Mahasiswa sudah tidak lagi bisa bergerak dan berkuasa dengan kreatifitasnya, karena belum mengenal identitas kolektefifitasnya. Berbagai macam acara besar, rapat kemahasiswaan dan keorganisasian pun telah la Kampus pun tidak lepas yang namanya mahasiswa,yang berada didalamnya. Mahasiswa adalah orang berpendidikan dan bermukim di perguruan dan di sekolah tinggi. Yang selalu ada di dalam kelas-kelas yang mengarungi keilmuan dan pengetahuan agar kelak menjadi pelopor masyarakat. Mahasiswa sudah tidak lagi bisa bergerak dan berkuasa dengan kreatifitasnya, karena belum mengenal identitas kolektefifitasnya. Berbagai macam acara besar, rapat kemahasiswaan dan keorganisasian pun telah lama usai namun belum bisa memberi bukti besar pada kampus. Aduh...suudon ini semoga tidak benar kawan...            

     Mahasiswa lebih bergerak dan menguasai ketika ada pendampingnya itu dirasakan oleh sebagian orang yang berpengaruh di kampus dengan pelayanan dan pemberian ke kampus sebagai penyeimbang dalam berproses menuju gelar wisuda, atau yang sudah dapat toga lamanya di kampus. Pelayanan orang yang sudah berpasangan selalu berwarna wajahnya pergi ke kampus ada sosok yang diidamkan dan disanjungkan. Mental kelebayan mulai muncul perlahan menjiawi mahasiswa. Keppo lho..mau tau apa mau banget?.. Itu pertanyaan yang membahagiakannya. Sudahlah itu terlalu berlebihan dalam merayakan kebahagiaaan, yang sejatinya senang-senang bersama pasangan, tidak usah menghebohkan dengan tawa gambarnya. Karena ini tidak sesuai norma kemanusiaan. Muncul unsur kecemburuan sosial, kalau orang ramai menghadapi kasusu penista agama, disini ramai penistaan diri kaum jomblo hahah ..berbagai apa saja yang disiapkan oleh bagi yang berpasangan sampai beradopsi kepada mahasiswa.             

   Mulai dari Penampilanpun menjadi suatu kebutuhan baginya, dengan bergaya aku ada dalilnya kepada temannya. Mulai dari aksesoris ditata rapi disebagian badan untuk menjadi mahasiswa yang keren dan bisa menarik perhatian pasangan khususnya dan  kaum hawa umunya. Nilai keaktifan mahasiswa diukur dari dia punya pasangan atau tidak. Kegiatan literasi mahasiswa yang menjadi rutinitas menciptakan obrolan basi dan membosankan karena memang sudah tergiur dengan kajian yang baper. Dan lebih senang dan serius menbahas kajian kawin, perlahan terhegemoni oleh yang sudah punya pasangan dan ingin mendalaminya untuk segera dapat merasakannya. Semoga tidak terjadi..heheheh

 
Read more

Thursday, March 16, 2017

Biografi KH.H. Masbuhin Faqih Suci, Manyar Gresik

KH. Masbuhin Faqih di lahirkan di desa Suci kec. Manyar Kab. Gresik pada tanggal 31 Desember 1947 Masehi atau 18 Shafar 1367 Hijriyah. Beliau lahir dari pasangan kekasih Al-Maghfurlah KH. Abdullah Faqih dan HJ. Tswaibah. Dari pasangan kekasih tersebut lahir 5 orang anak, 3 orang putra dan 2 orang putri, KH. Masbuhin Faqih merupakan anak pertama (yang paling tua). Beliau memiliki silsilah yang mulya dan agung, yakni sampai ke Sunan Giri. Kalau diruntut, maka beliau adalah keturunan ke-12 dari kanjeng Sunan Giri Syeih Maulana Ishaq. Dengan runtutan seagai berikut:1. Syeih Ainul Yaqin (Sunan Giri) 10. KH. Muhammad Thoyyib2. Sunan Dalem 11. KH. Abdullah Faqih3. Sunan Prapen 12. KH. Masbuhin Faqih4. Kawis Goa5. Pangeran Giri6. Gusti Mukmin7. Amirus Sholih8. Abdul Hamid9. Embah TaqribDengan silsilah yang begitu agung tersbut, tak bisa dipungkiri di dalam diri beliau terdapat ruh dan jiwa seorang ulama yang tangguh dan berjuang tanpa batas waktu seperti embah buyutnya dahulu. Hal ini sesuai dengan Qiyasan santri: “Bapaknya Singa maka ank-anaknya pun singa”.Pendidikan beliau sejak kecil di lingkungan yang islami. Mulai dari tingkat MI samapi Mts. Setelah Tsanawiyah beliau melanjutkan studinya ke Gontor, Pondok pesantren Darussalam Ponorogo, Jawa Timur, disanalah beliau memperdalam ilmu bahasa Arab dan Inggris. Setelah lulus dari Gontor beliau ingin memperdalam ilmu lagi, selanjutnya beliau nyantri di PP. Langitan Widang Tuban, yang pada saat itu diasuh oleh KH. Abdul Hadi dan KH. Abdullah Faqih. Di sana beliau memperdalam ilmu kitab kuning, mulai dari Fiqh, Nahwu, Shorof, tauhid, sampai tasawwuf. Proses penggembalaan ilmu di PP. Langitan cukup lama, sekitar 17 tahun belaiu nyantri di sana. Diceritakan bahwasannya sosok KH. Masbuhin Faqih muda adalah pemuda yang giat dan tekun belajar, suka bekerja keras, dan optimis dalam suatu keadaan apapun. Waktu di PP. Langitan beliau banyak melakukan tirakat, seperti memasak sendiri, melakukan ibadah puasa sunnah dan lain-lain. Di sana belaiu juga sempat menjadi khadam (pembantu dalem) kyai. Hal ini sampai menjadi jargon beliau dalam menasehati santri MBS (Mamba’us Sholihin), yakni “nek mondok ojo belajar tok, tapi nyambio ngabdi nang pondok iku”. Dengan penuh keihlasan dan kesabaran, beliau jalani semua kehidupan diatas demi mendapatkan ilmu yang manfaat dan barakah.Ditengah-tengah menimba ilmu di Langitan, teatnya pada tahun 1976 M atau pada saat beliau berumur 29 th, KH. Abdullah Faqih langitan menyuruh kyai MAsbuhin untuk berjuang di tengah masayrakat Suci bersama-sama dengan abahnya. 

KH. Faqih langitan sudah yakin bahwasannya santrinya ini sudah cukup ilmuya untuk berda’wah dan mengajar di masyarakat. Wak demi waktu berlalu, proses berda’wah terus berjalan dan berkembang pesat. Dengan perkembangan itu KH. Abdullah Faqih disuruh untuk membuat pesantren oleh beberapa guru beliau agar proses berda’wah tersebut lancar. Bersama-sama dengan Anak-anaknya mereka mendirikan suatu pondok yang diberi nama PP. At-Thohiriyyah, yang mana dengan filosofi berada di desa Suci.KH. Masbuhin pada waktu itu masih pulang pergi dari langitan ke -Suci. Beliau masih beranggapan bahwa menimba ilmu di langitan belum sempurna kalau tidak dengan wakt yang lama. Inilah salah satu kelebihan beliau, yakni haus akan ilmu pengetahuan agama Islam. Tepat pada tahun 1980 M, beliau sudah mendapat restu untuk meninggalkan pondok pesantren Langi. Dengan itulah beliau sekarang harus berkonsentrasi dalam msngurus PP. At-Thohiriyyah bersama dengan abahnya. Tepat pada tahun ini juga PP. At-Thohiriyyah dirubah menjadi PP. Mamba’us Sholihin, keadaan ini sesuai dengan usulan KH. Usman Al-Ishaqi. Karena nama suatu pondok dirasa mempunyai arti dan harapan yang penting.Perjungan KH. Masbuhin dalam memajukan pondoknya tidak kenal lelah. Setahap demi setahap pembangunan pondok dilakukan, mulai dari komplek sampai sekolahannya. Dengan relkasi yang cukup banyak, beliau mampu membuat MBS (singkatan dari Mamba’us Sholihin) lebih maju baik itu gedungnya maupun kualitas sumber daya manusia di dalamnya.Tepat pada tahun 1997 M, suasana duka menyelimuti pondokj pesantren dan masayrakat desa Suci. Abah beliau meninggal dunia pada umur 77 tahun. sosok suri tauladan dan landasan perjuanagn beliau sudah tidak ada. Dengan keadaan itulah beliau harus membawa MBS menggantikan abahnya.

Dengan kegigihan dan perjuangan keras dalam berda’wah menyebarkan agama ISlam, KH. Masbuhin menjadi ulama’ yang terkenal, tidak di Indonesia saja tapi samapi ke luar negeri khususnya di negeri Hadaramaut Yaman. Beliau sangat mencintai dan mengagungkan para dzuriyyah rasulullah SAW. HAl inilah yang menjadikan beliau terkenal di negara tersebut. Dengan sifat tersebut pula, apabila ada habaib dari yaman yang datang ke Indonesia maka beliau meminta agar bisa menyempatkan mampir ke pondok MAmba’us Sholihin walaupun sebentar.Selain berda’wah menegakkan agama ISlam beliau juga berkecimpung dalam dunia politik. Tepat sebelum pemilu raya 2009, para ulama’ Indonesia bersatu untuk membuat partai, hal ini dilakukan demi pertsatuan dan perkembangan bangsa Indonesia yang agamis dan syar’i, maka lahirlah PKNU (PArtai Kebangkitan NAsional ULama’). Dalam partai inilah beliau ikut andil dalam percaturan politik. Hal ini tidak lain karena peran ulama’ begitu besar di mata masyarakat. Dalam mengikuti arus politik beliau sering jadi panutan dan sumber nasehat oleh para pejabat baik itu tingkat daerah maupun nasional.Dalam mengarungi bahtera kehidupan, beliau didampingi seorang isteri yang ta’at dan setia sehidup semati, nama beliau Nyai Hj. Mas’aini. Kehidupan syaih dan isterinya mempnyai sejarah yang luar biasa, dua pasangan kekasih ini walaupun sudah menikah dan mempunyai anak mereka tetap saja nyantri di pondok Langitan. Dari pernikahan ini beliau dikaruniai oleh Allah SWT 12 anak, 9 putra dan 3 putri. Semoga Allah memberikan rahmat dan keselamatan terhadap mereka semua dalam kehidupan dunia dan akhirat. Amin….Profil Pondok Pesantren Mamba'us Sholihin

I. Letak Geografis PPMS

Mambaus Sholihin adalah sebuah institusi yang terletak di kawasan pegunungan Suci, bersuhu udara cukup hangat, ± 25 °C. Kawasan ini berada kurang lebih 3 Km dari terminal Bunder (jalur utama Surabaya-Jakarta). Dan 2 Km dari Pertigaan Desa Tenger Sukomulyo yang terletak di jalur pantura ini termasuk kawasan yang cukup makmur ekonominya. Dengan sumber daya alamnya serta pasokan air yang melimpah ruah, (konon merupakan sumber mata air yang muncul pada saat Kanjeng Sunan Giri hendak berwudhu), merupakan aset yang sangat berharga bagi masyarakat sekitar dan juga bagi Pesantren.Mambaus Sholihin berdiri di areal perkebunan cukup luas, yang dipisahkan oleh ruas jalan utama Bunder-Tenger menjadi dua bagian, untuk kompleks Putra di sebelah barat jalan, dan untuk kompleks Putri di sebelah timur jalan, pemisahan ini menjadikan situsasi yang kondusif dan memudahkan pengaturan antara santri Putra dan Putri. Mengingat letaknya yang strategis (tepat disebelah jalan utama) dan mudah dijangkau dari berbagai penjuru, menjadikan Mamba'us Sholihin adalah sebuah institusi yang tergolong cepat perkembangannya .II. Sejarah Pendirian PPMSPondok Pesantren Mamba'us Sholihin dirintis oleh ayahanda KH. Masbuhin Faqih, yaitu Al Maghfurlah Al Mukarrom KH. Abdullah Faqih Suci sekitar tahun 1969 yang pada mulanya berupa surau kecil untuk mengaji AI-Qur’an dan Kitab Kuning di lingkungan desa Suci dan sekitarnya.Pada tahun 1976 Al Mukarram KH. Masbuhin Faqih (putra pertama KH. Abdullah Faqih Suci) yang baru mendapatkan restu dari Al Mukkarrom KH. Abdullah Faqih Langitan untuk berjuang di tengah masyarakat, namun beliau masih mempertimbangkan kembali untuk mendirikan sebuah Pesantren, meskipun pada saat itu semangat beliau untuk mendirikan Pesantren sangat besar. Hal ini didasari oleh perasaan khawatir beliau akan timbulnya nafsu حب التلاميذ, karena mendirikan pondok harus benar-benar didasari oleh ketulusan hati untuk Nasrul Ilmi (untuk menegakkan Agama Allah), bukan atas dorongan nafsu, apalagi punya keinginan mendapatkan santri yang banyak. Berkat dorongan dari guru-guru beliau yaitu KH. Abdul Hadi Zahid, KH. Abdullah Faqih Langitan, KH. Abdul Hamid Pasuruan, KH. Usman Al-Ishaqi, serta keinginan luhur beliau untuk Nasrul Ilmi, maka didirikanlah sebuah pesantren yang kelak bernama Mamba'us Sholihin. Adapun dana pertama kali yang digunakan untuk membangun pondok adalah pemberian guru beliau, KH. Abdullah Faqih Langitan. Pada saat pendirian Pesantren, KH. Masbuhin Faqih masih menimba serta mendalami ilmu di Pondok Pesantren Langitan.

Sebelum Pesantren Mamba'us Sholihin didirikan, Al Mukarrom KH. Abdullah Faqih Langitan sempat mengunjungi lokasi yang akan digunakan untuk membangun Pesantren. Setelah beliau mengelilingi tanah tersebut, beliau berkata kepada KH. Masbuhin Faqih, “Yo wis tanah iki pancen cocok kanggo pondok, mulo ndang cepet bangunen”.("Ya sudah, tanah ini memang cocok untuk dibangun pondok pesantren, maka dari itu cepat bangunlah"). Tidak lama kemudian beberapa Masyayikh dan Habaib juga berkunjung ke lokasi tersebut,. Diantara Habaib dan Masyayikh yang hadir yaitu KH. Abdul Hamid (Pasuruan), KH. Usman Al-Ishaqi (Surabaya), KH. Dimyati Rois (Kaliwungu), Habib Al Idrus dan Habib Macan dari Pasuruan.Pada tahun 1402 H atau tepatnya pada tahun 1983 M, barulah dilakukan pembangunan Musholla Pondok Pesantren Mambaus Sholihin (sekarang merupakan Pondok Barat). Saat itu KH. Masbuhin Faqih sedang menunaikan lbadah haji yang pertama. Adapun yang menjadi modal awal pembangunan ini berasal dari materi yang dititipkan kepada adik kandung beliau (KH. Asfihani Faqih) yang nyantri di Pondok Pesantren Romo KH. Abdul Hamid Pasuruan.Pada saat itu KH. Asfihani Faqih turun dari tangga sehabis mengajar, tiba tiba ada seseorang yang tidak dikenal memberikan sekantong uang, kemudian beliau pergi dan menghilang. Pada pagi harinya KH. Asfihani di panggil oleh KH. Abdul Hamid Pasuruan, beliau berkata “Asfihani saya ini pernah berjanji untuk rnenyumbang pembangunan rumah santri (jama’ah) tapi hari ini saya tidak punya uang, Yai silihono dhuwit opo'o nak !”. kemudian KH. Asfihani menjawab "saya tadi malam habis mengajar di beri orang sekantong uang, dan saya tidak kenal orang tersebut”. KH. Abdul Hamid berkata “ Endi saiki dhuwite ndang ayo di itung”. Lalu KH. Asfihani mengambil uang tersebut dan dihitung sebanyak Rp. 750.000,-. Yang pada akhirnya KH. Abdul Hamid Pasuruan memberi isyarat, bahwa yang memberikan uang tersebut adalah Nabiyullah Khaidir AS (Abul Abbas Balya bin Malkan), kemudian KH. Abdul Hamid Pasuruan berkata pada KH. Asfihani “Nak, saiki muliyo. Dhuwit iki ke’no abahmu kongkon bangun Musholla”.Suatu kisah yang tak kalah menarik, adalah saat Pondok induk dalam taraf penyelesaian pembangunan, Hadrotus Syaikh KH Abdul Hamid Pasuruan datang dan memberi sebuah lampu Neon 40 Watt 220 Volt untuk penerangan Pondok Pesantren Mamba’us Sholihin. Padahal saat itu listrik belum masuk desa Suci. Mengingat yang memberi termasuk kekasih Allah, maka Pengasuh Pesantren yakin bahwasannya ini merupakan sebuah isyarat akan hadirnya sesuatu. Dan ternyata tidak berselang lama, tepatnya pada tahun 1976, masuklah aliran listrik ke desa Suci, dan rupanya Neon ini merupakan isyarah akan tujuan pondok pesantren Mambaus Sholihin.Pada pembangunan Tahap selanjutnya, KH. Agus Ali Masyhuri (Tulangan Sidoarjo) membeli sepetak tanah yang baru diberinya dari salah seorang anggota Darul Hadits, yang kemudian tanah yang terletak disebelah Masjid Jami' Suci "Roudhotus Salam" itu menjadi bakal dari Pesantren Putra Mamba'us Sholihin.III.

 Asal Mula Nama Pondok Pesantren Mamba'us SholihinAsal mula pondok ini diberi nama “At-Thohiriyah”. Mungkin oleh Pendiri dan Pengasuh di sesuaikan dengan nama desa tempat Pondok Pesantren ini didirikan, yaitu desa Suci. Sedang nama Madrasah saat itu adalah Roudhotut Tholibin. Ini disesuaikan dengan nama masjid Desa Suci "Roudhotus Salam”.Karena nama mempunyai makna yang penting, maka untuk memberi nama perlu perhatian dan pemikiran yang khusus, serta pemikiran nurani yang jernih dan membutuhkan petuah dari sesepuh yang benar-benar makrifat pada Allah.Suatu saat K.H Abdullah Faqih sowan pada guru Mursyid beliau untuk memohonkan nama yang cocok untuk Pesantren yang telah berdiri, oleh Al Alim Al Allaamah Al-‘Arif Billah Hadrotus Syaikh K.H Ustman Al-Ishaqi diberi nama “Mamba'us Sholihin“ (yang bermakna sumber orang-orang Sholeh)." Nama ini dimudlofkan pada isim fa’il, Insya Allah kelak santri yang mondok di Pesantren ini akan menjadi anak yang sholeh meski kurang pandai", begitulah fatwa beliau. 

Read more