Showing posts with label mambaus sholihin. Show all posts
Showing posts with label mambaus sholihin. Show all posts

Wednesday, September 26, 2018

Santri Aku Padamu


Pada wajah teduh sang kyai
Tanpa pamrih pun ia beri pada santri
Meneguk lautan ilmu menghampiri
Menepis lara buta akal nurani
Tertuntun pada jalan sunyi tholabul ilmi
Tanpa ambisi berlebih

Santri aku padamu..

Tancapan kening malam yang dibangunkan
Tinjakan nafsu berlipat menembus setetes air wudhu dibiaskan
Terpaan kenyataan begitu berwarna kerahmatan disaksikan

Santri aku padamu

Melampau terjang mendalam kitab kuning menghiasi
Berangkat serentak jalan mushollah berjubah putih
Berhempaskan kata "jamaah" di ilhami 
Lantunan ayat-ayat, syair-syair di dengungkan lestari 
Sungguh tiada nikmat dan  syukur selain menjadi santri
Read more

Wednesday, September 19, 2018

Seperti Lapar Harus Kenyang, Begitu Juga Rindu Harus Terbayar.


Siang menjelang adzan duhur berkumandang, suara bel berbunyi tanda persiapan sholat jama'ah duhur bagi mahasiswa di asrama pojok belakang kanan pondok. Juki seperti biasanya sangat rapi oleh dirinya bersiap-siap turun menuju aula asrama di lantai dasar asrama mahasiswa. Rutinitasnya kuliah nya pun hampir selesai, yang telah berstatus mahasiswa semester akhir.

Tak seperti mahasiswa umumnya di pondok yang telah banyak berkarir profesi dan mengabdikan diri di halaman pesantren. Yang telah memang sudah banyak yang telah bahagia dalam penuntasan tugas akhir kuliahnya.

Berbeda dengan juki yang masih mempunyai tanggunan prasyarat menuju wisuda. Hafalan surat yang setiap tesnya bayar 10 ribu per surat. Karena seringkali hafalan tak kunjung selesai di kampus akhirnya ustadz penerima setoran pun menanggunginya di rumahnya. Dengan memberikan peluang pada juki dalam jangka 3 hari menyelesaikan tugas hafalannnya. 

Siang itu Juki pergi ke kampus setelah hafal sebagian dari surat. Untuk kembali mencari informasi tentang proses wisuda. Yang berlanjut rehat di warung kopi dekat pesantren. Menyeduh kopi sebentar langsung pergi ke masjid sekaligus ziarah ke pendiri pesantren sambil menghafalkan ayat yang masih banyak belum ia hafal.

Di saat jam pulang mahasiswa dari kampus gelombang ke 2 tepat jam 16.45 ia bertemu dengan seorang dosen favoritnya di sebelah toko besar samping klinik pesantren. Dosen yang sangat tau persis apa yang dilanda oleh juki dalam permasalahan pasangan. 

"Aku tadi makan bersama anak binaan perempuan ku, dan ketika makan ia sangat ingat dan menanyakan mu" 
"Makan otak-otak bandeng ya pak?" Juki langsung menebak pada makanan dosennya.
"Iya benar sekali, itu tandanya rindu padamu" dengan tersenyum lebar pada juki.

Wawawawa......duar...

Hati juki pecah meletus balon merah kuning kelabu seperti pelangi. Ceria menemukan kebagkitan dirinya atas kegagalan memikat wanita tak pernah ia capai. sambil melamun gadis itu seraya di pantai bersamanya menikmati es degan ijo hahahahha....

Ya dengan mendapatkan salam rindu itu, ia mau tau mau harus segera tuntas atas terbelenggu hafalannya. Dan segera bertemu oleh wanita itu. Karena rindu juga harus terpenuhi oleh suatu pertemuan. Karena rindu juga perlu bagi seorang yang pilu oleh hingar bingar pesona wanita setiap pergi ke warung kopi.
Read more

Tuesday, September 18, 2018

Kisah Santri Rantau Bertemu Bintang Kesarjanaannya


Sebagai santri yang ada di seberang pulau daratan antara gresik dan madura. Aku merantau tak jauh dari pulau itu, pulau Bawean kabupaten Gresik. Perjalanan rantau ini pun dirasakan oleh teman ku sebrang lautan perak Surabaya. Dia berasal dari pulau Kalimantan, dengan sebutan Borneo ciri khasnya. Mempunyai kesamaan status santri rantau sama sepertiku.  yang sekarang menjalani proses akhir study di pesantren. Dan dia baru pindah kamar ke kamarku di lantai paling atas pojok kanan asrama Mahasiswa. 

Setelah ia usai menjadi Rois ketua Asrama di asrama santri Tsanawiyah. Mulai kesehariannya bersamaku, ngaji, ngopi dan sering ia membuat kata bijak, tatkala musibah atas mengejar sarjananya terhambat sulit untuk mencapainya. Namun ia selalu banyak kata dan harapan ketika hari malam tiba, dan mengajak ku melihat bintang-bintang dan syahdu ditemani kopi dan rokok. Berkat bersamanya, aku ingin terus tertawa dan membuka gigi terus. Meski terkadang itu kasar atau tak menyehatkan akal. Sangatlah wajara bagiku untuk mudah tertawa dan menghilangkan keseriusan yang membabi buta. Heheheheh

Sekalipun pada akhir moment menjadi mahasiswa akhir yang tak kunjung selesai tanggungan atas syarat wisuda yang sudah mendekati hari H. Ia terus menyemangatiku dan memgingatku tentang tanggungan itu. Ia tanggungan baca kitab, kalau aku hafalan surat al Kahfi. 

"Ayo setoran iz, kita hanya punya waktu 3 hari 2 malam" teriaknya padaku, disela aku duduk manis dikamar.
"Iya kin, bintang pun semakin terang, tanda ada harapan bersinar pada kita" balasku langsung padanya. 

Ia membuat strategi baru untuk lulus baca kitab dengan membawa kumpulan kitab nahwu shorof setiap ngopi. Targetnya paham dan menguasai i'rob dan seluk beluk kalimat di kitab kuning. Sedangkan aku cukup pergi ke maqbarah perintis pondok pesantren yang ada di belakang kampus. Disertai target hafalan sehari satu wajah di Al-Qur'an.  

"Iz kamu gimana hafalan surat al kahfinya?" Tanya makin kepadaku.
"Aku beralih pada surat dukhon kin, waktu pendek cocok buat surat ini. Lanjut aku pada nya.

3 hari itu pun jatuh pada hari senin, sehari sebelum yudisium dimulai. Makin dan aku pada malammya memburu target yang direncanakan. Karena hari senin sudah tuntas dan lulus menuju panggung wisuda. Dengan bergerilya dari warung ke warung kami menghabiskan waktu untuk target itu. Makin hafalan rumus, aku mendengarkan tartilan surat dukhon ditambahi mata melihat dan mulut membaca surat itu sampai hafal. Dan bisa disetorkan ke rumah ustadz yang diberi tugas dalam masalah ini. 

"Iz malam ini bintang semakin banyak dan beriringan saling jatuh cinta berdampingan" ia berujar padaku sebwlum berangkat ke rumah ustadz pondok, yang rumahnya ada didalam pondok.
"Ini adalah bertanda kebersamaan dalam satu perjuangan bersama kawan-kawan akan segera terasa kepada kita untuk merayakannya" jawabku padanya

Akhirnya malam itu malam penentuan bagi ku dan ia. Dan keajaiban pada bintang itu terasa nyata tatkala makin dinyatakan lulus pada malam itu. Dan aku besoknya dengan setoran hafalan yamg kurang pun tercapai membuka pintu gerbang wisuda. Teriak histeris pada malam itu dirayakan pada makin dan temannya cak man, fathur, dan shobah. Begitu ceria ia malam itu didepan ku, sehingga aura positif bagiku menjemput pagi itu semakin membara. Dan aku pun merayakannya. Dengan langsung mendaftarkan diri untuk wisuda. Dan kami pun esoknya berpose  bersama di tengah lautan manusia berpesta yudisium perayaan sarjananya.

Karena memang kesarjanaan pada wisuda adalah suatu kemewahan bagi kita bersama teman-teman seperjuangan, dan senasib. Dan sangat ditunggu oleh kedua orang tua yang mengadu nasib untuk anakanya di desa. Cuma nasibku dan makin hanya ada 6/7 anak. Tidak sampai berpuluh-puluhan sampai beratus-ratus jiwa manusia. Disamping juga aku dan ia sangat jauh dari rumah. Tidak seperti teman biasanya hanya berakses daratan yang mudah dijangkau dan pulang.
 "Santri rantau harus pantang terjang meski badai datang" status makin di whats up nya yang membangunkan aku dari lamunan perempuan yang datang dan pergi tak tepat waktu untuk melihat bintang-bintang lagi. 
Read more

Wednesday, September 12, 2018

Ketika Wisuda Menjadi Tolak Ukur Cinta


Kerinduan padanya bersemayam pada waktu subuh ditemani bintang-bintang, suara ayam berkokok, mobil angkutan umum mulai operasi, semangat pun mengampiri. Lekas saja sofyan mengambil wudhu' untuk sholat subuh. Pagi adalah suatu efektivitas pekerjaan pada umumnya. Serta tak ketinggalan bagi sofyan menucapkan semangat pagi untuk kekasihnya Ayla. 

"Semangat pagi Ayla, jangan lupa dua Rokaat dulu" pesan terkirim centang dua melalui pesan whats up Layla.

Sofyan pun meletakkan kembali hpnya di selipan baju kotaknya di pesantren. Dan melanjutkan kegiatan menghafalkan surat juz 30 sebagai syarat wisudanya. Sebagai mahasiswa yang ada di pesantren sofyan sangat berhati-hati dalam hubungan asmaranya . Makanya dia baru buka hp lagi selesai ngaji pagi.

"Alhamdulillah sudah semuanya mas, mas jangan lupa hafalannya semangat wisuda" ditambahi emoji senyum manis kemerahan. 

"Iya dik, mas ini masih nyicil hafalan ke Ustadz mas" balas sofyan pasca ngaji, langsung buka pesan orang yang selalu dihatinya. 

Sofyan masih terbelit utang hafalan pada syarat wisuda yang dekat bulan ini digelar. Kalau utang uang enak saja bisa nyari utangan lagi bayar lagi pikirnya Sofyan sambil mengulang-ulang lafadz Al-Qur'an yang dihafalkan. 

Tidak seperti umumnya tahfid yang lihay dan cepat menghafal beberapa ayat dan surat dalam Al-Qur'an. Sofyan agak sukar dalam masalah hafal menghafal. Karena kesehariannya membaca menjadinya mudah berfikir dan menganalisa. Karena tokoh idamannya adalah imam Ghozali menjadi seorang filsuf sufi. Kalaupun hafal dari beberapa dalil, sofyan tetap saja tenang tak ambisi membicarakannya pada teman-teman kala diskusi, ngopi, ataupun belajar bersama. Lebih kepada akal dulu baru Wahyu, slogan Sofyan dalam berbicara atau pun memecahkan problematika yang dibicarakan bersama teman-temannya.

"Gimana sudah hafal berapa surat?jangan lupan makan, biar staminanya terjaga mas" balasan  layla melanjutkan percakapan di hp sebagai bentuk perhatian pada Sofyan

"Iya Dik, ini baru 2 ayat aku hafal, bismillah " papar sofyan kepada Layla

Hafalan yang diberi jangka waktu 2 minggu kerap sangat jauh kemungkinan sofyan hafal. Disamping pikiran pada skripsi yang belum dimunaqosahkan juga membuat sofyan mati kutu ambisi menghafalkannya. Maka sofyan beralih fokus pada penyelesaian skripsinya.

Hubungan chat bersama layla pun agak renggang, lantaran sofyan banyak jam penelitian. Satu dua hari tak saling kabar, akhirnya sofyan mengirim pesan pada layla. Setalah melihat status layla di wahts upnya yang lagi ngajar. " Siang dik, gimana ngajarnya?" Layla telah berstatus menjadi Guru Formal sekolah Madrasah Ibtidaiyah di kampungnya. " Alhamdulillah seru bersama anak sekolah, smean gimana kelanjutan skripsi dan hafalannya?" Layal berbalik tanya pada sofyan. Saat itu kondisi sofyan diambang piluh nan susah. Setelah muanqosah belum juga dipastikan, pendaftaran skripsi pun sudah tutup.

"Iya ini proses Dik, doakan lancar semuanya ya" siasat Sofyan agar layla tenang dan mendoakan terbaik buat sofyan.

Beberapa hari kemudian info daftar munaqosah dicantumkan. Sayang nama sofyan tak muncul, lantaran sofyan masih belum menyelesaikan syarat perbaikan nilainya. Dan juga labbaiknya pun belum lulus. Setelah mendapatkan informasi dari teman-teman untuk konsultasi kepada dekan fakultas. Sofyan pun berkonsultasi kepada bapak fakultasnya. Namun sama saja belum bisa meringankan sofyan untuk wisuda, beliau memastikan Sofyan wisuda tahun depan karena masih terbelit syarat-syarat yang Sofyan belum tuntas. Disamping itu teman lama pondok sofyan yang kenal Layla pun memberitahukan masalah dan status Sofyan. 

Tut,tut,tut.....bunyi hp sofyan bergetar kencan disaku celananya. Yang saat itu sofyan bepergian ke warung kopi untuk menyeduh kopi untuk sesuatu yang diterimanya.

"Gimana kamu pasti wisuda apa enggak?" Tanya layla. Secara langsung membuat pikiran sofyan semakin rumit oleh hubungan bersama orang yang dicintainya.
"Iya ini proses dim, aku sudah usaha, dan kenyataan tak berpihak padaku" sofyan langsung saja berterus terang pada layla.

"Kamu gak jadi wisuda?"
"Kayaknya sulit untuk tahun ini dik"

Seketika itu tak ada balasan lagi dari layla. Tentun layla sangat ingin Sofyan wisuda agar nanti bisa saling melengkapi dalam suatu hubungan selanjutnya. Karena layla telah berstatus guru, layla pun malu kalau calon imamnya itu tak mempunyai gelar kesarjanaan. Layla pun memastikan pada temannya Sofyan apa benar Sofyan tak wisuda pada tahun ini. Temannya yang ingin sekali mendapatkan Layla pun mengabari Sofyan gagal wisuda. Dan diam-diam pun temannya menjalani hubungan intens tanpa status. 

Dan sofyan terus berkomunikasi kepada Layla, namun tak seperti biasanya. Balasannya singkat dan terkesan cuek, slow respons.

"Gimana dik, aku bisa melamarmu tanpa ada gelar kesarjanaan yang aku sanding?" Tawaran sofyan kepada layla.

Lama tak membalas....

Tut,tut,tut.....nelpon bergetar, sofyan melihat layar hp pemberitahuan pesan masuk dari Layla yang begitu panjang sampai meyesakkan hati sofyan.
"Sebelumnya aku minta maaf Mas, kamu memang suka sama aku, tapi aku tidak bisa menerima mas tanoa ada gelar yang menyertai mas, dan sekarang aku sudah menemukan sosok yang aku pilih dan idamkan. Bagiku ini adalah pilihan terbaikku. Yang membuat aku semakin maju dan ideal. Jadi layla tak bisa menerima mas. Carilah yang lain saja mas, yang menghargai perasaan mas. Mulai sekarang kita berteman saja mas lebih baik itu."

Dan hubungan percintaan Sofyan pun usai begitu saja, betapa sakitnya hati sofyan, ditambah lagi wisuda yang kian gagal,  cintanya kandas di tengah jalan. Seakan pintu kebahagiaan ditutup untuk sofyan. layla pun memilih teman sofyan yang sudah pasti wisuda dan bisa membuat layla bangga. 
Read more

Wisudanya Dipending Dulu


"Kenapa lama kau kuliah nak?"
"Aku belum lulus pak" balasan anak pada bapaknya di seberang suara telpon itu.
Dalam dunia normal seorang Mahasiswa dalam berjuang memperoleh gelar kesarjanaannya dialami dalam jangkah 4 tahun. Dengan beberapa media pembelajaran dan pengalaman di kampus atau luar kampus. Semakin dalam teori dan ilmu pengetahuan dirasakan di bangku perkuliahan sebagaimana dikenal sekolah tinggi. Yang memang tidak semua orang bisa kuliah. Membiayai saja harus berani modal dan resiko seperti yang dialami oleh Fathur. 

Siang menjelang sore, mahasiswa mulai sepi dari kampus, tinggal seorang fathur yang sendiri ditemani kertas tebal berisi skripsi yang terbungkus map kuning kecerahan. Hehehe...tapi tak cerah akan dijalaninya karena tak dapat solusi reaktif dari dekan fakultasnya untuk memberi kemudahan dalam proses menjadi sarjana muda. Belum lagi resahnya yang dialaminya dari orang tua yang sangat mendambakan dia wisuda. Perayaan paling megah dan sanagat istimewa kini hampir jauh dari harapan. Tipis menggapai, tumpul pada pikiran yang bingung mau jadi apa setelah wisudanya tertunda.

"Kamu mau jadi apa nak, tanpa title?" Lanjut percakapan Fathur kepada bapaknya.
"Aku mau jadi petani, guru atas petani dan mengorganisir petani saja pak" balas fathur
" La kamu gak kaya-kaya, mana bisa banyak uang jadi petani?"
"Bertani saja dulu pak, akan banyak kebudayaan yang aku ambil dari dunia tani. Khususnya leluhur Bangsa ini. ," fathur terus menyakinkan orang tuanya untuk sabar menerima kenyataan dan terus dengan jalannya menjadi petani. Karena memang di lembaga dan kuliahnya hanyalah sebagian butiran debu jalanan yang dilalui oleh mahasiswa sepertinya. Dan fathur yakin dengan apa yang telah diputuskan oleh kampus menjadi kegagalan sebagai awal kesukseaan.

Untuk fathur lebih belajar menggeluti dunia kampung halamannya. Berasumsi pada agama, sosial, budaya, pendidikan, dan ekonomi bagi dirinya dan disekitarnya.

"Yaudah nak, terserah kamu saja, yang penting kamu sukses " kalimat akhir dari dari bapak fathur menutup percakapan kedua orang itu.
" Iya bapak, makasih banyak bapak, maafkanlah anakmu yang belum bisa bapak bahagian dan bangga" 

Sekian banyak biaya yang telah dikeluarkan oleh bapak untuk fathur belum bisa mengantarkan kejayaannya meraih gelar sarjana untuk wisuda. Mungkin wisuda belum diraihnya, namun fathur terus mencari jalan untuk perkembangan atas dirinya untuk kebahagiaan dan senyuman kebanggaan orang tuanya. Dan sebagai petani yang akan dijalani dalam merintis pondok tani di tanah sebrang sana bisa membuahkan pencapaian akan dirinya yang selalu diremehkan dan dijauhi oleh teman sebayanya yang wisuda mendapat gelar sarjana.
Read more

Sunday, September 9, 2018

Kriteria Status Mahasiswa Semester Akhir Berdasarkan Pakaiannya Ke Kampus

        
     
         Siang hari adalah momen yang sangat krusial sekaligus awal perjuangan bagi mahasiswa tingkat akhir semester. Yang memang malamnya terlarut pada tugas akhir atau juga kekal dalam luapan emosi terbaring kan badan pada lantai sajadah. Terpikirkan revisi berkali-kali atau juga hafalan yang tumpul menghiasi dinding setoran lembaran syarat wisuda. 

        Oke guys, bersama teman-teman yang berstatus mahasiswa akhir tingkat final, karena ini sudah dekat dengan Wisuda pada dwi Minggu ke depan. Inilah macam-macam corak pakaian berdasarkan status sekaligus tingkatan mahasiswa akhir di kampus.

1. Kemeja putih, celana hitam ,berdasi, bersepatu fantovel ala gaya Bos meski belum dipanggil Bos, minimal sudah jadi Bos SPP kampus jika ditotal lumayan bisa buat cicil rumah untuk calon istri hehehhe... Adalah mahasiswa yang menjalani proses pembuktian alamiahnya pada karya tulisan baca : skripsi. Artinya ia adalah sedang bangga dengan pencapaian pada pembuatan skripsinya. Karena memang sangat tidak mudah bisa mencapai taraf itu dengan beberapa tahapan yang sangat menghargai pada kesabaran dan keuletan. (Mahasiswa Sukses calon Idaman mahasiswi)

2. Kemeja kotak-kotak ala pak Jokowi, gaya mahasiswa akhir pada pembaruan yang dipakainya. Atau juga tidak pada kemejanya, melainkan pada aksesoris pada kemejanya yang baru beli. (Mahasiswa kaya, calon idaman penjahat wanita malam) hahahah..

3. Kemeja polos, menandakan kewibawaan pada umumnya. Atau juga kesederhanaan yang dimilikinya. Artinya dia telah selesai pada tugas akhir. Menunggu wanita yang pas, sambil celengi buat Nikah hehehe.... 

4. Kemeja putih garis-garis , kemeja yang biasanya merek Cardinal, Lea, La Russo, benhil dll. Ala barang jajakan mall biasanya dipakainya. Ini biasanya kemapanan yang telah dicapainya. Di samping selesai pada tugas akhirnya, juga ada sosok pasangan yang dinantinya di kampus. (Mahasiswa siap iringan dan pelaminan.)

5. Batik, nasionalis, cinta budaya Indonesia, dipakai pada mahasiswa tingkat akhir untuk meminta TTD dalam pengesahan dan persetujuan untuk tugas akhir yang mumpuni. Ya kan memang terkesan bagus dan sangat identik dengan keselarasan dan kebanggaan. Jadi dosen enak bangga punya mahasiswanya begitu sebaliknya. (Mahasiswa tepat dosen)

6. Kemeja garis-garis biasanya dipakai mahasiswa yang telah berstatus ustadz atau guru dengan seragam kesehariannya mengajar di gunakan di kampus juga. Telah menjalani sebagian administrasi kampus. Menunggu kiriman saja untuk cicil Hp baru. Maklum banyak tugas, dan jangkauan luas untuk mencerdaskan bangsa membutuhkan barang yang lebih lengkap fiturnya. (Mahasiswa calon Guru) 

             Mungkin itulah pembagian yang aku tulis berdasarkan kebiasaan di kampus dalam detik-detik kadaluwarsa menjadi mahasiswa hehehhe..

Read more

Wednesday, August 22, 2018

Korban Perasaan Mana Lagi Yang Diminta?


     Terlalu dini menceritakan perasaan seorangpun bagiku, yang sama sekali belum merasa mencicipi itu rasa yang dalam oleh seseorang. Apalagi  tentang ceritaku ini yang berkisah  cinta seorang  laki-laki biasa yang mencintai wanita yang sangat istimewa dihatinya. Sayangnya si lelaki itu ditinggalkan tanpa alasan yang jelas dari wanita itu, dan lelaki itu pun sudah mengerti sebelumnya. Yang kian hari telah mencedari perasaannya. Usut punya usut ternyata ada seorang diam-diam memetuk hatinya. Dia adalah teman sendiri yang pernah ia kenalkan pada saat membantu lelaki menemui wanita pujaannya. 
      Dengan kemewahan dan keparipurnaan akademisnya yang mampu memikat hati wanita itu. Karena memang wanita itu adalah seorang akademisi yang handal telah diakui banyak orang, sedangkan si lelaki hanyalah orang biasa, yang hobinya ngopi dan nyangkruk bersama teman-temannya. Tentu si wanita tak ingin memilih lelaki itu. Dan langsung berputar 360 derajat dari harapan lelaki itu, terharu memang yang dirasakan lelaki itu, lelaki itu sangat akrab dan relatif baik banget dengan teman yang ia kenalkan kepada wanita itu. 
   Dan akhir pada perasaan lelaki itu pupus ketika dia masih belum rampung akademisnya. Terbelit tanggungan yang disertainya. Karena memang kondisinya adalah sama-sama semester akhir. Si lelaki telah merencanakan wanita untuk menjadi pendampingnya kala ia lulus nyaris tak terkira kenyataannya. Si wanita menjauh dan langsung bicara terus terang bahwa dia sudah ada orang yang ia cintai. Si lelaki tetap tersenyum dengan menyatakan kepada teman-teman nya  "tak pantas hati bersedih, kalau wajah masih bisa tersenyum" hehehheeh seperti biasanya si lelaki ngopi bersama teman-temannya.
    Di warung yang hanya berdurasi beberapa menit ada teman si lelaki menghampiri dia, pada saat itu temannya meminta rokok pada penjaga warung itu, sambil dia mengajukan pertanyaan kepada sang lelaki itu 
"Lho bro bukankah orang itu yang selalu kau ceritakan padaku dan teman-teman?" Tanya dia
"Iya, emang kenapa?" 
"Kok sekarang jadi jarang kau cerita,dan aku melihat bersama teman kita"
"Iya memang seperti itu aku, aku menikmati kebusukannya saja dari sini, kalau teman sudah bahagia bersamanya. Ya sudah hehehehhe" jawab si lelaki itu dengan senyum khasnya, sambil menyeruput kopinya
"Wah.....memang kadang seperti itu ya Bro, terlalu alim didepan, brengsek dari belakang hahah" lanjut temannya
           Mengutip kalimat dari cak tejo Sujiwo Tejo "Kalau dengan jancok aku tak bisa mencintaimu, maka dengan air mata lagi aku mengetuk pintu hatimu" hahahhaha...
Terkadang berbagai pengorbanan yang ada dalam diri seorang untuk seorang yang dicintainya berakhir menjadi korban yang menusuknya secara pelan-pelan. Tak nampak, namun terasa. Hahahhaa
    Sudahlah.... Mungkin itulah jalan kebahagiaan yang dibuat oleh seorang wanita atas  lelaki tersebut, kiranya ada pelajaran yang tersirat dalam perjalanan asmara lelaki itu memberitahukan arti keikhlasan pada sebuah perasaan yang menyertaniya. 
    Maka korban mana lagi yang dirasakannya?
Wallahu A'lam
Gresik, 1.35. 23-08-2018
Si lelaki itu pulang sejenak dari pondok, sambil menghibur diri melihat foto-foto wanita yang meninggalkannya heheheh


Read more